Blog Archives

Mikrometer Sekrup Virtual

Pada pengukuran besaran panjang, terdapat beberapa alat ukur mulai dari yang tingkat ketelitian kurang sampai yang memiliki ketelitian tinggi. Skala terkecil mistar yaitu 1 mm, disusul jangka sorong 0,1 mm dan mikrometer sekrup 0,01 mm. Kelanjutan artikel jangka sorong virtual, artikel berikut adalah pengukuran menggunakan minrometer virtual.

Langkah simulasi pengukuran sebagai berikut :

Buka program “Macromedia Flash Player” mikrometer sekrup, sehingga nampak tampilan seperti gambar dibawah

Read the rest of this entry

Jangka Sorong Virtual

Keterbatasan peralatan dan bahan di Laboratorium Fisika bukan rahasia lagi merupakan  kendala bagi para guru untuk melakukan pembelajaran dengan eksperimen. Apalagi harga peralatan dan bahan sekarang ini tidak murah, dan pada daerah-daerah tertentu pemerintah daerah yang mengeluarkan kebijakan populis dengan pendidikan gratisnya melarang iuran bulanan/Komite kepada orangtua santri semakin menjauhkan kondisi dari kelengkapan peralatan praktikum.

Tetapi tidak usah kuatir, cukup dengan 1 unit komputer bisa komputer di lab. komputer, laptopnya Bapak/Ibu Guru, atau kalau memang terbatas sekali komputer tata usaha/kepala sekolah sekali-kali dipinjamkan untuk melakukan praktek fisika yang murah ! Yaitu praktek menggunakan program virtual. Read the rest of this entry

Ketidakpastian Pada Pengukuran

Ketidakpastian pada pengukuran disebabkan adanya kesalahan baik si pengukur maupun alat ukurnya.

Kesalahan (error) adalah penyimpangan nilai yang diukur dari nilai benar xo.

Ada 3 macam kesalahan, yaitu :

  1. Kesalahan umum/keteledoran, kesalahan disebabkan si pengamat antara lain kurang terampil dengan alat yang dipakai    
  2. Kesalahan Acak, kesalahan disebabkan fluktuasi-fluktuasi halus diantaranya gerak molekul udara, fluktuasis tegangan PLN, getaran, dll. Kesalahan acak menghasilkan simpangan yang tidak dapat diprediksi terhadap nilai benarnya (xo) sehinga peluangnya diatas atau dibawah nilai benar. Kesalahan acak tidak dapat dihilangkan tetapi dapat dikurangi dengan mengambil nilai rata-rata hasil pengukuran.
  3. Kesalahan Sistematis, kesalahan oleh kalibrasi alat, kesalahan titik nol, kesalahan komponen dan kesalahan arah pandang/paralaks. Kesalahan sistematis yang besar menyebabkan pengukuran tidak akurat.

Perbedaan Hasil Pengukuran yang akurat dan presisi !!

Hasil pengukuran dikatakan akurat bila nilai rata-rata hasil pengukuran mendekati/ hamper sama dengan nilai yang benar. Bila nilai rata-rata jauh dari nilai benar maka hasil pengukuran dikatakan tidak akurat.

Contoh :

Nilai benar panjang benda adalah 8,24 cm. Lima kali dilakukan pengukuran berulang didapatkan data pengukuran (1). 8,20 (2). 8,22 (3). 8,20 (4). 8,28 dan (5). 8,25. Nilai rata-rata hasil pengukuran  didapatkan dari  ((8,20 + 8,22 + 8,20 + 8,28 + 8,25)/5) = 8,23 cm. Maka nilai rata-rata hasil pengukuran tersebut dikatakan akurat karena mendekati nilai benar yaitu 8,24

Sedangkan hasil pengukuran dikatakan presisi bila data hasil pengukuran terpencar dekat dengan nilai rata-rata hasil pengukuran sebagaimana contoh diatas.

Bila hasil lima kali pengukuran diatas didapatkan (1). 8,35 (2). 8,42 (3). 7,95 (4). 7.95 dan (5). 8,50. Nilai rata-rata hasil pengukuran  8,23 cm, maka dikatakan tidak presisi karena penyebaran hasil pengukuran terpancar jauh dari nilai rata-ratanya walaupun nilai rata-ratanya mendekati nilai sebenarnya.

Kekurangakuratan hasil pengukuran dimungkinkan akibat kesalahan sistematis yang besar dan ketidakpresisian hasil pengukuran akibat kesalahan acak yang besar !

Cara pelaporan hasil pengukuran suatu besaran dapat di klik disini

Laporan Hasil Pengukuran

PELAPORAN HASIL PENGUKURAN
Hasil pengukuran suatu besaran dilaporkan sebagai berikut :
x= xo ± Δx
Dengan x adalah nilai pendekatan terhadap nilai benar xo dan Δx adalah ketidakpastiannya.

PENGUKURAN TUNGGAL
Pengukuran tunggal adalah pengukuran yang dilakukan hanya satu kali saja, adapun ketidakpastian pada pengkuran tunggal sitetapkan sama dengan setengah skala terkecil (Δx = ½ x skala terkecil)

Mistar
Ketidakpastian mistar (Δx) adalah 0,05 cm atau 0,5 mm. Pada saat pengukuran ujung benda yang diukur berada pada 5,4 cm lebih, maka besar x dilaporkan dalam 3 angka atau dua decimal karena Δx = 0,05 cm terdiri atas dua decimal.
Karena 5,4 lebih maka xo dituliskan 5,45 cm
Sehingga laporan hasil pengukuran dituliskan :

x = ( xo ± Δx)
x = (5,45 ± 0,05) cm

artinya kita tidak tahu nilai benar xo, akan tetapi xo berada di sekitar 5,40 cm (x = (5,45 – 0,05)cm) dan 5,50 cm (x = (5,45 + 0,05) cm.

Jangka Sorong
Ketidakpastian Jangka Sorong (Δx) adalah 0,005 cm atau 0,05 mm. Pada saat pengukuran diameter benda skala utama pada 5,4 cm lebih, dan skala nonius garis berimpit membentuk garis lurus pada 25, maka skala nonius (25 x 0,005) cm = 0,125 cm sehingga xo dilaporkan
xo = 5,4 cm + 0,125 cm
xo = 5,525 cm
Karena Δx jangka sorong 0,005 cm maka pelaporan hasil pengukuran adalah

x = ( xo ± Δx)
x = (5,525 ± 0,005) cm

Mikrometer Sekrup
Ketidakpastian mikrometer sekrup (Δx) adalah 0,0005 cm atau 0,005 mm. Pada saat pengukuran diameter benda skala utama pada 5,4 mm lebih, dan skala nonius garis mendatar pada selubung luar pada garis ke 47. Maka skala nonius (47 x 0,005) mm = 0,235 mm sehingga xo dilaporkan
xo = 5,4 mm + 0,235 mm
xo = 5,635 mm
Karena Δx micrometer sekrup 0,005 mm maka pelaporan hasil pengukuran adalah

x = ( xo ± Δx)
x = (5,635 ± 0,005) mm

PENGUKURAN BERULANG


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers