“Asteroid Bone”Pertanda Pertahanan Bumi Yang Lemah

Tanggal 8 Oktober 2009 hampir sebulan yang lalu, sebuah asteroid yang berukuran diameter 10 meteran jatuh menuju ke bumi diatas wilayah Watampone atau Bone Sulawesi Selatan, kurang lebih 4 jam perjalanan dari tempat penulis. Masyarakat awampun bermacam dugaan atas ledakan besar di atas Bone. Ada dugaan ledakan efek sonic boom dari kecepatan pesawat Sukhoi yang melebihi kecepatan suara kebetulan yang hari itu sedang latihan yang kemudian terbantahkan penjelasan dari AU bahwa kecepatan pesawat tidak segitu.

Kurang lebih dua minggu lebih masyarakat hanya bisa menerka. Dan mulai nampak kejelasan setelah dari beberapa stasiun pengematan benda angkasa atau dari badan pemantau ledakan menjelaskan bahwa ledakan di Bone adalah sebuah asteroid yang jatuh ke bumi dan meledak di udara Bone pada ketinggian 15 sampai 20 km !. Waah Benda dengan diamater 10 meteran tidak terdeteksi oleh telescop ? Artinya memang lemah pertahanan Bumi kita karena peralatan yang ada tidak mampu mendeteksi dengan dini kedatangan asteroid atau benda angkasa lain yang ukurannya “kecil” yang dibilang kekuatan ledakannya  3 kali bom hiroshima !!!

Menurut vivanews dari perkiraan NASA, asteroid yang meledak di Bone berdiameter 10 meter dengan kekuatannya tiga kali bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima atau 50 ribu ton TNT (bahan pembuat bom). Asteroid Bone adalah salah satu yang terbesar yang pernah diobservasi.

Beruntung, asteroid itu tak menyebabkan kematian dan kehancuran massal. Menurut ahli astronomi, Peter Brown dari University Western Ontario, Canada, kehancuran tak terjadi karena meledak pada ketinggian  15 sampai 20 kilometer di atas permukaan bumi.

Meski luar biasa kekuatannya, asteroid Bone tak terdeteksi teleskop. Tak terbayang jika meteror yang jatuh berukuran lebih besar lalu tak terdeteksi, bencana tak akan terelakan.

Seperti dimuat laman Telegraph, 27 Oktober 2009, asteroid Bone telah memicu kekhawatiran tentang pertahanan planet bumi terhadap potensi benturan dengan benda-benda langit, terutama dengan ukuran yang lebih kecil.

Direktur Minor Planet Centre Cambridge, Massachusetts,  Tim Spahr mengingatkan potensi masuknya asteroid-asteroid yang berukuran lebih kecil akan jatuh dan meledak di bumi tanpa peringatan.

Apalagi, hanya sedikit benda langit yang besarannya lebih kecil dari 100 meter bisa diidentifikasi dengan teknologi yang ada saat ini.

“Kita butuh teleskop yang lebih besar untuk mendeteksi benda-benda langit yang lebih kecil,” kata dia.

Sebelumnya, asteroid atau bagian komet berukuran 60 meter diduga kuat berada di balik tragedi Tunguska di Rusia pada 1908. Ledakan yang terjadi saat itu diperkirakan 10-15 ribu  ton TNT-cukup kuat untuk meledakan sebuah kota besar.

Lembaga Sains dan Teknologi Amerika Serikat telah meminta Gedung Putih untuk segera bertindak mengantisipasi ancaman asteroid, sebelum Oktober 2010

 

Posted on 4 November 2009, in Info Fistik and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: