Santri Baru, Pemain Bola Terkenal Dan Ibunya

Sejak hari Kamis, 8 Juli 2010 yang lalu satu persatu santri baru Pesantren memulai hari pertamanya di Asrama Santri. Datang bergelombang, masing-masing dengan keluarganya; Bapak, Ibu, Kakak dan adik yang mengantar karena saudara mereka untuk beberapa waktu lamanya tidak akan bersama-sama bermain, nonton TV atau makan di rumah. Saudara mereka menjadi seorang santri yang harus tinggal di Pondok/Asrama.

Umur mereka berkisar 14 Tahun, masih kecil memang. Dirumahnya mereka masih dicucikan pakaiannya, diambilkan atau dihidangkan makanannya, dan tidur sebagian masih harus bersama ibunya. Tapi sekarang sudah waktunya mereka harus belajar mandiri.

Tangis tak tertahankan dari beberapa Ibu yang sebenarnya tidak tega meninggalkan anak kecilnya segalanya harus mengurus sendiri, apalagi kalau anaknya memang anak bungsu. Penulis saksikan langsung, sewaktu meninggalkan anaknya untuk kembali pulang beragam ekspresi yang keluar. Ada yang tidak sanggup berucap sama sekali sambil berjalan tertunduk karena harus berpisah dengan anaknya. Ada yang menahan tangis walaupun airmata berlinangan. Seorang suami, mengatakan kepada istrinya ” Disinilah letak ujian bagi kamu Bu’, sanggup ndak meninggalkan anakmu untuk menuntut ilmu umum sekaligus agama di pesantren”. Lain ibu, berbeda sikap yang ditunjukkan Bapak. Karena sang Bapak dalam posisi harus menetralisir kegalauan istrinya walaupun dia sangat sedih juga.  Bagaimana dengan sang anak yang ditinggal ?

Malam pertama tidur sendiri, ada beberapa santri yang menangis. Menangis karena merindukan keluarganya terutama ibunya yang barusan sore tadi meninggalkannya. Ini pemandangan yang biasa di pesantren setiap awal tahun ajaran bagi santri baru. Perasaan sedih yang “biasa” pula bagi pembina walaupun berusaha telaten menghibur mereka.

Apakah hal hanya terjadi bagi mereka yang masih anak-anak ?

Tidak,  hampir semua orang akan mengalaminya !. Bahkan bagi mereka yang notabene sudah menjadi olahragawan terkenal sekalipun.

Pemain Bola Dan Ibunya

Ibu adalah hidup kita, dia akan menyertai kita ke mana-mana. Itu berlaku untuk siapa saja. Tak terkecuali juga pemain bola. Bagi pemain bola, ternyata ibu juga segala-galanya.

Ibu, dialah yang pertama kali ditelepon oleh Ramires (23), ketika dalam pertandingan uji coba menjelang Piala Dunia 2010, Brasil menaklukkan Tanzania 5-1. Tanzania memang bukan lawan yang sepadan bagi Brasil. Namun, itu bukan soal. Yang penting, Ramires ingin membuat Yudith, ibunya, bangga dan bahagia. Apalagi dalam pertandingan uji coba itu, Ramires sendiri memborong dua gol. Oleh karena itu, ia segera membagikan kebahagiaan kepada ibunya yang tinggal jauh di seberang sana.

Demikian juga halnya dengan Samuel Eto’o. Pada masa kecil Eto’o hidup di perkampungan kumuh wilayah Douala, kota terbesar di Kamerun. Hidupnya sangat miskin dan ibunya harus mati-matian mencari uang untuk menghidupi keluarganya.

”Setiap kali saya mencetak gol, apalagi gol yang amat menentukan, saya selalu memikirkan ibu saya. Gambar ibu selalu terbayang di mata saya. Ketika saya mencetak gol, saya terkenang, bagaimana pada pagi-pagi buta, ibu pergi meninggalkan rumah, untuk menjual ikan, agar ia bisa menghidupi keluarga. Tanpa dia, tak ada saya sekarang,” aku Eto’o kepada penulis Christian Ewers yang mewawancarainya.

Eto’o bilang, setiap pertandingan adalah pertarungan. Ia tak ingin mengalah. Ia ingin bertahan seperti ibunya, yang demikian tabah bekerja di pasar, sampai mendapatkan uang untuk keluarganya. Jadi bagi Eto’o, setiap gol yang ia peroleh bagaikan sekeping mata uang, yang dulu dicari dengan susah payah oleh ibunya. Gol itu terasa sebagai pembebasan dari belenggu kemiskinannya.

Cacau ternyata juga mempunyai pengalaman yang mirip dengan Eto’o. Cacau asli Brasil, dilahirkan dari keluarga amat miskin di desa kecil, 40 kilometer dari Sao Paulo. Ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dan Cacau sendiri pernah menjadi pedagang asongan di jalan-jalan raya Sao Paulo.

”Waktu saya mencetak ke gawang Australia, ibulah yang datang pertama kali ke dalam pikiran saya. Lalu saya teringat akan kedua saudara saya dan bersamaan dengan itu timbullah segala kenangan akan kemiskinan dan penderitaan yang pernah saya lalui,” kata Cacau.

Ia tak tahu, mengapa gol itu serasa sebagai sebuah kebahagiaan yang dapat menutupi penderitaan yang dulu harus ditanggung oleh ibunya.

Kenangan akan kasih ibu semacam itu juga terjadi pada gelandang Inggris, Frank Lampard. Menurut bibinya, Sandra Redknapp, Lampard sangat terpukul ketika dua tahun lalu ibunya meninggal karena pneumonia. ”Ia sangat membutuhkan dukungan ibunya sehingga dalam Piala Dunia kali ini, ia pasti merasa sangat kehilangan dukungan itu,” tutur Sandra Redknapp, yang merupakan istri Harry Redknapp—paman Lampard—pelatih Tottenham Hotspurs.

Kata Sandra, Pat, ibu Lampard, selalu hadir setiap kali Lampard bertanding sejak Lampard masih anak-anak. Pada Piala Dunia di Jerman, empat tahun lalu, Pat juga datang menyaksikan pertandingan anaknya. ”Pat sangat bangga akan anaknya. Sekarang Pat sudah tiada, padahal Frank selalu membutuhkannya. Jadi saya yakin, dalam Piala Dunia kali ini, Pat juga datang dan menjaga Frank, serta berharap, Frank memperoleh hasil yang terbaik,” kata Sandra pada awal perhelatan Piala Dunia 2010.

Dan bagaimana dengan Arjen Robben? Setelah Bayern Muenchen keluar sebagai juara Liga Jerman, lalu bersiap-siap menghadapi final Liga Champions melawan Inter Milan, Robben pernah bilang demikian, ”Andaikan nanti saya bisa menikmati juara Liga Champions dan kemudian menjadi juara di Piala Dunia 2010, tak ada lagi yang akan saya buat, kecuali meninggalkan semuanya lalu pulang ke rumah ibu saya.”

Bagi pemain bola, ibu ternyata adalah tempat, yang selalu mengajak mereka pulang. Ibu adalah naungan, di mana mereka merasa aman dan tenteram. Ibu juga selalu mengikuti mereka ketika mereka bersusah payah merebut dan memainkan bola. Juga ketika ibu telah tiada, mereka tetap percaya akan kehadirannya.

Ibu melebihi kemampuan dan kehebatan mereka. Kalau ibu mengawal mereka, mereka merasa pasti bahwa mereka akan menemukan jalan menuju kemenangan. Ibu, yang lemah lembut dan penuh kasih itu, adalah puisi di tengah lapangan bola yang keras dan penuh pertarungan. Dan gol adalah persembahan cinta yang ingin mereka haturkan kepada ibunya.

Mother, how are you today? Ibu, bagaimana kabarmu? Lagu ini ternyata adalah kata-kata cinta, yang juga menjadi isi hati para pemain bola dan tentunya kita semua.

Posted on 12 July 2010, in It's Amazing and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. sehebat apapun tokoh, ibunya melebihi dari si tokoh itu…siip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: