Mungkinkah GMT diganti MMT ?

Bertepatan masuknya Tarikh 1 Ramadhan 1431 Hijriah jam raksasa mulai berdetak. Empat sisi wajah jam berkilauan selebar 46 meter yang terdiri atas ubin gabungan teknologi tinggi, sebagian dihiasi dengan emas, dengan posisi lebih 400 meter di atas komplek Masjidil Haram dengan tinggi menara itu mencapai 601 meter, dimana bagian atas termasuk bagian atas berkilauan yang ditenggeri bulan sabit keemasan yang ditangani oleh perusahaan Dubai milik Jerman, Premiere Composite Tecknologies. Dengan begitu, gedung tadi akan menjadikannya sebagai bangunan terjangkung kedua di dunia — lebih tinggi daripada pencakar langit Taiwan, Taipei 101 yang tingginya 509 meter. Tapi menara Saudi tersebut masih lebih rendah daripada Burj Khalifa, gedung berketinggian 828 meter yang diresmikan di Dubai pada Januari lalu.


“Pekerja Muslim berkemampuan tinggi” tengah merampungkan pekerjaan pengelasan pada bingkai jam tadi.  Memiliki diameter lebih lebar enam kali lipat daripada jam termasyhur di London, Big Ben, jam tadi dilengkapi tulisan “Dengan Nama Allah” dalam bahasa Arab dengan huruf-huruf raksas di bawahnya dan akan diterangi dengan dua juga lampu LED. Sekira 21.000 lampu warna putih dan hijau, yang dipasang pada bagian atas jam tadi, akan menyorotkan cahaya sejauh 30 kilometer untuk mengisyaratkan lima shalat wajib satu hari satu malam.

Jam itu mencerminkan suatu tujuan oleh sejumlah Muslim untuk menggantikan standar waktu universal berusia 126 tahun — yang pada awalnya bernama Greenwich Mean Time (GMT) — dengan Mecca mean time (MMT). Dalam sebuah konferensi di Doha pada 2008, para ulama dan sarjana Muslim mengajukan berbagai argumentasi “ilmiah bahwa waktu Mekkah adalah global meridian yang sebenarnya. Mereka mengatakan Mekkah adalah pusatnya dunia sedangkan standar Greenwich itu diterapkan oleh pihak barat pada tahun 1884.

Dibangun dengan dana yang dikendalikan pemerintah, komplek itu terdapat di tujuh menara raksasa di atas sebuah podium masif. Enam terdapat di antara lantai 42 dan 48, dan pada bagian tengahnya adalah letak menara jam, yang terlihat hampir dua kali tinggi menara-menara lain.

Imbangi

Keseluruhan komplek  dengan 3.000 kamar hotel dan apartemen, sebuah pusat shopping lima tingkat dan ruang shalat dan konferensi sangat luas, akan memberinya ruang lantai 1,5 juta meter persegi, ungkap para arsitek dan laporan industri konstruksi.

Pada ukuran itu, ruangan tadi akan mengimbangi tiga terminal terbaru di Dubai International Airport untuk gedung terluas di dunia. Komplek tersebut akan memiliki tiga hotel top-class, Fairmont, Raffles dan Swiss Hotel. Komplek itu juga akan memiliki ratusan apartemen mewah, yang kebanyakan dirancang memiliki pandangan langsung ke Masjidil Haram.

Proyek itu merupakan bagian rencana pemerintah Saudi untuk mengembangkan Mekkah agar mampu menerima sekira 10 juta jemaah haji setiap tahunnya, naik dari kapasitas tiga juta dewasa ini. Hal itu diperlukan untuk mengakomodasi meningkatnya populasi global Muslim, yang punya kewajiban menunaikan ibadah haji ke Mekkah sekali seumur hidup, jika mampu. Pada puncak musim haji, menurut arsitek Dar al-Handasah, komplek tersebut diharapkan mampu menampung 65.000 orang.

Mungkinkah GMT diganti MMT ?

Jika jadi, Mekkah Mean Time (MMT) akan memudahkan umat Islam di berbagai negara dalam mengambil lintang dan derajat kiblat di Mekkah. Secara geografis posisi Mekkah memang sangat ideal untuk dijadikan patokan waktu dunia. Mekkah nyaris berada di tengah episentrum dunia. Namun untuk mewujudkan hal tersebut, memang tidak mudah. Dibutuhkan perjuangan panjang. Apalagi ada sentimen Islam di masyarakat Barat

Pemindahan titik standar waktu dari kota Greenwich atau Greenwich Mean Time (GMT) ke kota Mekkah yang disebut Mekkah Mean Time (MMT) untuk  Indonesia akan terjadi pergeseran waktu yang tadinya +7 jam GMT untuk WIB, berubah jadi +4 jam MMT dan perubahan waktu ini akan berdampak besar pada aktivitas masyarakat sehari-hari, mulai dari kegiatan ekonomi, telekomunikasi, hingga penerbangan internasional.

Apakah yang diganti hanya patokan waktu ataukah garis bujur ditarik jadi nol derajat berada di kota Mekkah. Kalau sampai menarik bujur nol derajat, tentu posisi astronomis negara berubah semua. Peta tentu akan berubah. Tetap mungkin kalau hal ini disetujui oleh dunia internasional

Posted on 16 August 2010, in It's Amazing and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: