Cerita Tentang Plastik & Go Green

Kalau kita baca Sains di Kompas.com  lagi ramai tentang pelestarian lingkungan’Go Green’nya Mal Ciputra yang kumpulkan botol bekas,  demikian juga berita terkait yaitu semarak Go Green di Istana, UT canangkan kampus Go Green, Ratusan Avanza-Xenia Go Green Di Cisarua… dan berita Go Green lainnya yang seru. Perlu-perlu dan harus kita dukung agar alam kita lestari.

Di materi Fisika XI semester I ini dengan materi Hukum Hooke & Elastisitas, dalam pengantar saya tanyakan ke para siswa. ” Kenapa kantongan untuk membungkus barang belanjaan yang berwarna-warni dengan bunyi khasnya dinamakan plastik  ?” dan siswapun bingung. Barang yang sejak kita terlahir sudah akrab dengan kehidupan kita, banyak yang belum tahu kenapa dinamakan plastik !


Benda dikatakan elastis apabila gaya yang bekerja pada benda tersebut dihilangkan, benda kembali seperti semula. Benda yang bila gaya yang bekerja padanya dihilangkan ternyata tidak kembali ke bentuk semula dikatakan plastis  yang kemudian dikatakan plastik untuk kantongan belanjaan yang sungguh praktis itu.

Tetapi dengan segala fungsinya, plastik tetaplah bahan yang berbahaya ! Bahaya limbah plastik bukan omong kosong. Telah banyak penelitian membuktikan dahsyatnya limbah plastik mendatangkan bahaya termasuk potensi negatifnya dalam mendegradasi lingkungan. Hal yang pasti adalah dampak negatif sampah plastik tidak sebesar fungsinya.

Butuh waktu 1000 tahun agar plastik dapat terurai oleh tanah secara terdekomposisi atau terurai dengan sempurna.Saat terurai, partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air tanah. Jika dibakar, sampah plastik akan menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan yaitu jika proses pembakarannya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin. Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, dan memicu depresi.

Bagi lingkungan, kantong plastik juga mengakibatkan banjir, karena menyumbat saluran-saluran air dan tanggul sehingga mengakibatkan banjir bahkan yang terparah merusak turbin waduk. Diperkirakan, 500 juta hingga satu miliar kantong plastik digunakan di dunia tiap tahunnya. Jika sampah ini dibentangkan maka, dapat membungkus permukaan bumi setidaknya hingga 10 kali lipat!

Setiap tahun, sekitar 500 miliar hingga satu triliun kantong plastik digunakan di seluruh dunia. Diperkirakan setiap orang menghabiskan 170 kantong plastik setiap tahunnya dan lebih dari 17 miliar kantong plastik dibagikan secara gratis oleh supermarket di seluruh dunia setiap tahunnya. Kantong plastik juga menjadi salah satu penyebab perubahan iklim utama di mana sejak proses produksi hingga tahap pembuangan, sampah plastik mengemisikan gas rumah kaca ke atmosfer.

Kegiatan produksi plastik membutuhkan sekitar 12 juta barel minyak dan 14 juta pohon setiap tahunnya. Proses produksinya sangat tidak hemat energi. Pada tahap pembuangan di lahan penimbunan sampah (TPA), sampah plastik juga mengeluarkan gas rumah kaca.

Saat ini berbagai negara di dunia mulai melarang dan merespon bahaya penggunaan kantong plastik, seperti di Kenya dan Uganda yang sudah secara resmi melarang penggunaan kantong plastik. Sejumlah negara lain juga mulai mengurangi penggunaan kantong plastik di antaranya Filipina, Australia, Hongkong, Taiwan, Irlandia, Skotlandia, Prancis, Swedia, Finlandia, Denmark, Jerman, Swiss, Tanzania, Bangladesh, dan Afrika Selatan. Singapura, sejak April 2007 telah berlangsung kampanye “Bring Your Own Bag” (bawa langsung kantong Anda sendiri), digelar oleh The National Environment Agency (NEA). Pemerintahan China juga telah mengeluarkan rancangan undang-undang (RUU) mengatasi kantong plastik dan reaksi yang telah disiapkan antara lain pelarangan penggunaan tas plastik di departement store.

Indonesia juga tidak ketinggalan dengan berita Go Green diatas. Bahkan alumni fisika 2006 Beni Chandra adalah satu dari sedikit orang yang prihatin atas hal itu dan tergerak memperpanjang masa pakai kantong kresek dengan cara lain.
Usahanya itu bermula dari sebuah keinginan untuk mandiri sekaligus prihatin atas keadaan semakin menggunungnya sampah di Kota Bandung. Dari tangan mahasiswa biasa bermodal cekak itulah sebuah usaha ramah lingkungan yang mendatangkan berkah menemui titik awalnya. Kini, Beni Chandra memiliki empat mesin pemroduksi biji plastik dan mempekerjakan 15 tenaga kerja. Itu memungkinkannya mampu memasok lebih banyak pabrik plastik daur ulang meski belum sepenuhnya dapat memenuhi pasokan bahan baku yang mereka pesan. Laba bersih dari usahanya kini mencapai lebih dari Rp 12 juta perbulan.

Oh plastik,…

 

Posted on 17 October 2010, in Info Fistik and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: