Kejujuran Dan Keberanian

Kadangkala kita vokal dan kritis dengan ketidakjujuran, kekeliruan, kelalaian, ketidakbecusan, kekurangtegasan atau kelemahan para pemimpin negeri mungkin, pemegang kekuasaan di pemerintahan dari pusat sampai desa mungkin,..atau kita vokal dan kritis terhadap atasan atau rekan kerja di tempat kerja barangkali…atau kevokalan dan kekritisan kita dimanapun dengan siapapun itu diperlukan dalam kerangka membangun, mengingatkan yang memang menjadi kewajiban kita untuk mengingatkan, yang penting bukan menjatuhkan, menjelekkan, dan lainnya. Namun kevokalan dan kekritisan kita harus dibekali (harus sudah terbangun juga dalam diri) juga dengan sisi positip  dari aspek negatif yang melekat pada yang orang yang kita kritisi. Otomatis kita berusaha juga jujur, tidak melalaikan tugas/kewajiban, tegas, dan lain sifat yang menjadi latar belakang kekritisan kita. Akan hambar dan tidak akan efektif kevokalam dan kekritisan kita bila tidak dibekali dengan kejujuran yang matang dalam diri.

InsyaAllah besok, seluruh komponen yang terlibat dalam dunia pendidikan utamanya tingkat SMA punya hajatan Ujian Nasional 2011. Target persentase kelulusan tahun ini barangkali tidak sesulit tahun lalu dengan adanya sistem penilaian yang baru. Jadi apapun peran kita semua dalam ujian tersebut, apakah sebagai panitia, pengawas dan peserta ujian maka kejujuran adalah yang utama. Kejujuran yang kita terapkan dalam segala aspek kehidupan keseharian kita terdapat banyak hikmah baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, dalam waktu dekat maupun masa ‘depan’. dirasakan oleh kita pribadi ataupun dilingkungan terdekat sampai yang jaraknya ‘jauh’. Banyak kisah ispiratif agar kejujuran dapat kita jadikan sesuatu yang tidak akan terlepas dalam diri kita. Untuk menjadi bahan renungan ada cerita dibawah…


Pada sebuah negeri, ada seorang raja yang telah memasuki usia lanjut. Karena tidak memiliki anak laki-laki yang bisa meneruskan tahtanya, ia bermaksud segera menikahkan puterinya yang telah dewasa. Lalu sang raja mengundang semua pemuda yang ada di seluruh negeri dan berkata kepada mereka, “Aku akan mengadakan sayembara. Kalian semua akan mendapatkan sebuah biji. Tanamlah biji itu, rawatlah dengan baik, dan kembalilah padaku setahun lagi dengan membawa tanaman kalian masing-masing. Barang siapa yang memiliki tanaman terbaik, dialah yang akan menjadi suami anakku dan kelak akan menggantikanku sebagai raja!”
Seorang pemuda yang bernama Abdul terlihat sangat antusias. Ia menanam biji itu dan menyiraminya setiap hari. Tapi setelah sebulan berlalu, biji itu tak kunjung tumbuh. Setelah enam bulan berlalu, para pemuda mulai membicarakan tanaman mereka yang tumbuh subur dan tinggi. Namun pot Abdul masih kosong. Ia tidak mengatakan apapun pada teman-temannya. Ia tetap menunggu bijinya tumbuh.
Setahun telah berlalu. Semua pemuda dengan penuh semangat membawa tanamannya kepada sang raja. Pada mulanya Abdul merasa enggan dan malu, tapi karena ibunya mendorongnya untuk pergi dan mengatakan apa adanya, ia pun berangkat menghadap raja. Raja dengan senang menyambut para pemuda dan memuji tanaman yang mereka bawa. “Kerja kalian luar biasa. Tanaman kalian bukan main bagusnya. Aku akan menunjuk salah satu dari kalian untuk menjadi pendamping anakku.”
Tiba-tiba sang raja melihat Abdul yang berdiri di belakang dan memanggilnya. Sontak Abdul panik dan ketakutan, “Jangan-jangan aku akan dibunuh,” pikirnya. Suasana  menjadi riuh dengan ejekan dan cemoohan hadirin yang menyaksikan pot Abdul masih kosong. “Diam semuanya!” teriak sang raja. Ia menoleh kepada Abdul dan mengatakan, “Dialah orang yang berhak menjadi pendamping anakku!” kontan semua yang hadir menjadi terkejut. Bagaimana mungkin orang yang gagal akan mempersunting anak raja.
Lalu raja melanjutkan, “Setahun yang lalu aku memberi kalian biji untuk ditanam. Tapi sebenarnya biji yang kuberikan adalah biji yang telah dimasak dan tidak mungkin tumbuh. Kalian semuanya pasti telah menggantinya dengan biji yang lain. Hanya Abdul-lah yang memiliki KEJUJURAN dan KEBERANIAN untuk membawa pot dengan biji yang kuberikan. Karena itu, dialah yang kuangkat menjadi menantuku!”
{Jadi kejujuran akan membawa perubahan mendasar pada diri seseorang. Tapi tanpa keberanian, kejujuran tidak akan membawa perubahan bagi orang banyak. Kejujuran hanya menghasilkan pengikut bukan pemimpin. Untuk bisa merubah masyarakat diperlukan keberanian. Masalahnya, dari manakah datangnya keberanian? Ia datang kalau kita mampu menaklukkan rasa takut. Rasa takut inilah sumber segala macam kejahatan di dunia ini. Rasa takut yang ada menunjukkan bahwa kita belum mandiri. Kebahagiaan dan rasa aman kita masih bersumber pada sesuatu yang di luar diri kita!!!}.

Posted on 17 April 2011, in 1 and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: