Kompetensi Guru Dalam Mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional

Sorak sorai, gegap gempitanya siswa SMA/SMK diiringi raungan pawai motor dengan mengenakan seragam ‘baru’ khas akhir tahunan yang telah disemprot warna-warni terjadi dihampir seluruh daerah di Indonesia, setelah Nilai Akhir (NA) yang berkomposisi 60%Nilai Sekolah(NS) dan 40% Nilai Ujian Nasional (NUN) memenuhi kriteria untuk lulus. Siswa senang, Guru tenang, Dinas tidak meradang, Daerah melayang naik prestasinya. Insya’Allah, hari senin depan giliran siswa SMP/MTs, para Guru, Dians/Instansi terkait, Daerah barangkali ikut penasaran untuk mengetahui kelulusan/tingkat kelulusan.


Diluar itu semua ada hal yang tidak boleh terlupakan, hasil yang kita capai hari ini barangkali sebagian belumlah sebagai hasil ‘nyata’ nya siswa. Adanya temuan dari berita-berita yang tersebar dan adanya peringkat kejujuran yang dapat kita lihat akses di dunia maya sebagai indikator belum jalannya sistem yang diharapkan. Dan hal tersebut menjadi tugas kita bersama bagaimana mewujudkan sebuah sistem pendidikan yang baik, tidak hanya dari sisi prestasi akademik tetapi juga dilandasi dengan budi pekerti dan akhlak yang mulia. Sistem yang jujur, obyektif, semua elemen percaya diri dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi masing-masing dari awal proses sampai Ujian, maka prestasi yang diharapkan bisa dicapai. Nilai yang didapatpun menjadi tidak ‘palsu’ sehingga pada diri siswapun terpupuk jiwa kompetisi prestasi yang sesungguhnya pada tingkat pendidikan lebih tinggi.

Guru berperan besar dalam mewujudkan hal tersebut. Di facebook, juga di blog-blog juga dapat ditemukan keprihatinan tersebut yang muncul dalam istilah-istilah lucu menggelitik yang bisa menjadi motivasi perbaikan. Istilah ‘penyakit-penyakit’ yang harus diketahui oleh para Guru, yaitu :

FLU(Facebookkan mLUlu), TIPES(TIm PEngejar Sertifikasi), MUAL(MUtu Agak Lemah), KUDIS(KUrang DISplin), ASMA (ASal Masuk Kelas), KUSTA (KUrang StrAtegi), TBC (Tidak Bisa Computer), KRAM (Kurang tRAMpil), ASAM URAT (Ambil SAMpingan Untuk BayaR Angsuran krediT), LESU (LEmah Sumber), DIARE (DI kelas Anak-anak REmehkan), GINJAL (Gaji Ingin Naik tapi kerJA Lamban), RADANG PARU (RAjin DAtaNG PulAng pun buRu-bUru), BATUK (BawaAnnya nganTUK), JANTUNG (Jarang mAsuk Ngajar Tapi terUs Ngarep Gaji).

Mudah-mudahan kita semua terhindar dari gejala-gejala penyakit diatas.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru, pasal 2 disebutkan bahwa Guru wajib memiliki Kualifikasi Akademik, Kompetensi, Sertifikat Pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi yang dimaksud adalah seperangkat pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Kompetensi Guru sebagaimana dimaksud meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Kompetensi Guru bersifat holistik.

Kompetensi Pedagogik

Kompetensi pedagogik  merupakan kemampuan Guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi:

  1. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan
  2. pemahaman terhadap peserta didik
  3. pengembangan kurikulum atau silabus
  4. perancangan pembelajaran
  5. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
  6. pemanfaatan teknologi pembelajaran
  7. evaluasi hasil belajar; dan
  8. pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Kompetensi Kepribadian

Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang:

  1. beriman dan bertakwa
  2. berakhlak mulia
  3. arif dan bijaksana
  4. demokratis
  5.  mantap
  6. Berwibawa
  7. stabil
  8. dewasa
  9. jujur
  10. sportif
  11. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat
  12. secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri; dan
  13. mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.

Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial merupakan kemampuan Guru sebagai bagian dari Masyarakat yang sekurang-kurangnya meliputi kompetensi untuk:

  1. berkomunikasi lisan, tulis, dan/atau isyarat secara santun
  2. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional
  3. bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua atau wali peserta didik
  4. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku; dan
  5. menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan.

 Kompetensi Profesional

Kompetensi profesional  merupakan kemampuan Guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan budaya yang diampunya yang sekurang-kurangnya meliputi penguasaan:

  1. materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu; dan
  2. konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan, yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu.

Standar kompetensi Guru dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri. Keempat kompetensi di atas selanjutnya dalam Penilaian Kinerja Guru sebagaimana yang harus dilakukan terhadap guru yang tercantum dalam Permendiknas 35/2010 tentang petunjuk teknis Pelaksanaan jabatan fungsional Guru dan angka kreditnya, dijabarkan menjadi 14 sub kompetensi. Penilaiannya akan dilakukan dengan sistem paket yang terkait dalam pelaksanaan tugas utama,  sbb:

A. Pedagogik

  1. Menguasai karakteristik peserta didik
  2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik
  3. Pengembangan kurikulum
  4. Kegiatan pembelajaran yang mendidik
  5. Pengembangan potensi peserta didik
  6. Komunikasi dengan peserta didik
  7. Penilaian dan evaluasi

B. Kepribadian

  1. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional
  2. Menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan
  3. Etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru

C. Sosial

  1. Bersikap inklusif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif
  2. Komunikasi dengan sesama guru, tenaga kependidikan, orang tua, peserta didik dan masyarakat

D. Profesional

  1. Penguasaan materi, struktur, konsep dan pola pikir dan keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang  diampu
  2. Mengembangkan keprofesionalan melalui tindakan yang reflektif

Tidak ada manusia yang sempurna, setidak-tidaknya kita ada usaha untuk mancapainya !

Posted on 21 May 2011, in 1 and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: