Kritik Sosial Sebagai Respon Tindakan ‘Asosial’

Sehari setelah selesai mengikuti Seminar Internasional ‘Gerakan Anti Radikalisme’ Di Makassar, 25 Mei 2011 di Balai Prajurit Jenderal M. Yusuf saya membuat artikel yang sempat pula saya sampaikan dalam sebuah apel pagi yang berjudul ‘Antara Ada Dan Tiada’.  Saya kembali teringat karena ketiadaan sesuatu sehingga memunculkan sesuatu yang lain. Dalam sebuah forum rapat di negeri beragam suku budaya, seorang dengan inisial elpe ( he.he, bukan lauk-pauk lho) yang berpendidikan ‘level tinggi’ mengatakan kalimat perbandingan ber‘level rendah’. Saya katakan ber’level rendah’ karena ada kalimat lontarannya yang (1). sangat diskriminatif dan cenderung menyerang kelompok, suku tertentu, (2). tidak mencermati siapa-siapa yang hadir dan kalimat apa yang seharusnya cocok dan tepat untuk diucapkan sehingga dapat menyinggung orang/suku lain, (3) beberapa kalimatnya saling bertentangan, disaat tertentu mengatakan ‘pluralis’ di saat yang lain pedas terucap kalimat-kalimat diskriminatifnya. Atau mungkin sudah menjadi kebiasaan sehingga walaupun tahu keberagaman yang hadir tetapi karena dorongan dari dalam sehingga kalimat diskriminatifnya tetap meluncur deras keluar. Saya sebut kebiasaan karena saya sudah beberapa kali merasakan semburan dikriminatifnya.


Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah kodrat. Allah sudah mengingatkan kita semua akan hal itu, bahkan  diciptakan-Nya dengan sebuah tujuan, mudah-mudahan yang bersangkutan mengingat kembali ayat berikut. Dalam QS.Al Hujuraat  13 yang artinya :

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal

Menurut Faturochman dari Fakultas Psikologi UGM tentang Model-model Psikologi Kebhinekaan bahwa Persatuan Indonesia secara politis sudah didefinisikan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan salah satu sila dasar negara tetapi secara psikologis masih belum jelas. Dari perspektif psikologi sosial, ada beberapa model persatuan dalam kebhinnekaan.

  1. Model dekategorisasi dan personalisasi. Maksudnya, dari berbagai suku, golongan serta kelompok yang mengalami salinasi kategori atau identitas kelompok sangat kuat, dilakukan upaya agar identitas kelompok hilang.
  2. Model rekategorisasi, yaitu melebur kategori “kami” dan “mereka” menjadi “kita”. Sepintas upaya rekategorisasi untuk membentuk identitas Indonesia merupakan upaya ideal. Kenyataan menunjukkan bahwa upaya ini tidak berhasil.
  3. Model  diferensiasi mutual. Model ini mengakui adanya perbedaan-perbedaan tetapi mereka memiliki peran-peran yang komplementer yang akan mendukung keberhasilan tujuan umum.
  4. Model hibrida. Model ini mengakui bahwa individu pada umumnya memiliki lebih dari satu identitas. Orang dengan identitas seperti ini bisa saja memperlakukan identitas dirinya secara hirarkhis atau memiliki persilangan kategori. Di era global seperti sekarang ini tampaknya model hibrida ini akan lebih berkembang sekaligus dapat mengakomodasi kepentingan berbagai pihak tanpa perlu penyeragaman. Untuk mengikat model hibrida dalam persatuan bangsa masih diperlukan pengembangan aspek psikologis lain, di antaranya adalah penghormatan, kepercayaan, keadilan, kebijaksanaan, dan pemaafan atas kesalahan pihak lain

Dengann carut marutnya kebhinekaan kita, tidaklah salah bila ada orang yang apatis, tidak lagi ingin mendengar dan melihat apa yang sedang terjadi. Pada sisi lain, banyak pula orang masih menikmatinya, menunggu-nunggu munculnya kejelekan lainnya, siap terlibat dalam perkara kejelekan itu, atau menjadi pengobarnya. Ada juga yang optimis dengan keadaan bangsa ini setelah melakukan analisis secara faktual dan rasional.

Pertanyaannya, masih dominankan kelompok orang yang sungguh-sungguh dan tulus menghendaki situasi negeri ini membaik?

Pertanyaan ini muncul karena mencari kriteria sungguh-sungguh dan tulus itu ternyata sulit. Sering orang mengatakan dia ikhlas tetapi justru itulah indikasi ketidakikhlasan, karena ikhlas tidak harus selalu dibahas tetapi  tindakan dan pekerjaan kita sebagai buktinya. Hampir setiap orang menyatakan ingin berbuat baik, namun fakta menunjukkan sebaliknya, tidak terkecuali sosok yang ‘berpendidikan tinggi’ namun lisannya sebagai cerminan diri ber’level rendah’.

Atau bisa jadi kebiasaan tersebut muncul karena itulah ‘barang dagangannya’ untuk menjadikannya tetap eksis di lingkungan tertentu yang sefaham dengannya.  Ini sebuah kritik sosial sebagai respon ‘tindakan asosial’ , yang mudah-mudahan berguna.

Posted on 3 June 2011, in 1, It's Amazing and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Salam kenalpak , bangsa ini paling majemuk terdiri berbagai agama dan suku. Bhineka tunggal ika harus kita jadikan peganggan untuk pemersatu bangsa. Saya setuju untuk mengungkapkan segala sesuatupun haris dipilih kalimat yg tepat spy tidak menyinggu suksu atau agama lain.

  2. FADIL BURHAN LAI

    Assalamu alaikum.Wr.Wb
    Sya mau nanya ust, bagiaman cara menambhkan foto seperti foto di samping artikel ini ke dalam blog wordprees,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: