Catatan Akhir Tahun 2011 : Belajar Profesionalisme Dari Pekerja Bangunan

Ada duabelas- an orang pekerja yang sudah sekitar hampir 4 bulan tinggal di lingkungan kami untuk melakukan rehab bangunan di kampus kami. Sasarannya adalah penggantian konstruksi atap/plafon dari kayu, tripleks dan asbes diganti total dengan konstruksi atap baja ringan, seng dan gift. Terbagi menjadi 4 tim, tim pembongkar atap/plafon serta membereskannya, tim pemasang kerangka baja dan atap, tim pemasang plafon serta pengecatannya dan tim instalasi listrik. Beberapa blok bangunan besar terdiri atas dua blok asrama dua lantai, 7 unit perumahan pembina/pengasuh telah selesai. Sementara sedang dikerjakan ruang makan putra/putri, dapur dan auditorium (aula) dan akan menyusul masjid serta kompleks perkantoran dan ruang pembelajaran berlantai dua.

Fokus saya pada tim pemasang konstruksi rangka baja ringan dan atap. Luar biasa semangat kerja mereka. Totalitasnya utuh ! Hujan rinti-rintik bukan halangan, kecuali hujan mulai deras mereka akan turun perlahan dari atap untuk istirahat sejenak sambil menunggu redanya hujan. Begitu hujan reda mereka mulai naik ke atap untuk melanjutkan kerja. Padahal proyek rehab ini tidak diburu waktu penyelesaian walaupun juga bila dikerjakan lamban juga mengganggu proses pembinaan di Kampus.

Mereka terbilang sabar dan tegar. Cobaan sempat juga menemani sesekali pada mereka. Salah satu pekerja yang semangat melanjutkan kerja terlupa kalau kondisi tangannya basah dan saat memasang stekker ke stopkontak tersengat listrik 1300 Watt. Beruntung kecekatan temannya yang segera mencabut kabel dari sumber tegangan sehingga selamat wakaupun sempat jatuh dari ketinggian 3 meter. Setelah sehari semalam istirahat, sang pekerja menyatakan siap kembali bekerja.

Suatu sore di saat hujan turun saya hampiri mereka yang sedang istirahat. “ Hujan lagi, mas “, sekalimat sapaan untuk membuka pembicaraan. Bukan kalimat tanya, bukan juga kalimat penegasan karena kita semua sudah mengetahui bahwa air yang turun dari langit di musim sekarang ini yang hujan namanya.

“Ya, mas. Yaa..disyukuri saja keadaan, sabar”, jawab salah seorang dari mereka.

Luas atap keseluruhan yang mereka akan tangani sekitar 6500 m2 dan 50%nya hampir selesai. Sekitar 3 bulanan lagi, bahkan lebih mereka masih akan tinggal. Jauh dari keluarga, menikmati konsumsi seadanya bahkan seringkali tidak sesuai dengan selera lidah mereka kesehariannya. Maklum mereka berada di  daerah yang memang berbeda menu kesehariannya.

Walaupun berat pekerjaan mereka, rupanya masih ada keselarasan antara ucapan dan tindakannya. Kalimat ‘disyukuri’ yang sempat mereka ucapkan mereka implementasikan dalam aktivitas kesehariannya, karena mereka sering terlihat mengikuti shalat berjama’ah di masjid.

Ada sebuah pertanyaan saya lontarkan kepada mereka disebabkan rasa penasaran saya atas ketrampilan, kecekatan, kesabaran, totalitas dan kualitas semangat kerjanya. Bagaimana mereka dulu mendapatkan ilmunya, jawab mereka mereka sudah mendapatkan sertifikat sebagai pemasang konstruksi rangka baja !

Dan, …bagaimana dengan kita yang berprofesi sebagai pendidik ? Sudahkah profesional atau akan berusaha profesional setelah mendapatkan sertifikat ?

Menjadi profesional adalah salah satu kompetensi yang memang harus dimiliki oleh pendidik, jadi tidak harus menunggu ada sertifikasi. Begitu kita sudah profesional kemudian mendapatkan sertifikat, kita tidak harus belajar menjadi profesional, karena kita sudah profesional ! Insya’Allah

Posted on 31 December 2011, in 1. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: