Hujan dalam Al Qur’an dan Sains (1)

(Bagian 1. Tahapan Terjadinya Hujan)


Alhamdulillah, saat mulai mengetik tulisan ini turun hujan lagi di tempat tinggalku Enrekang Sulawesi Selatan, “Allahumma shoyyiban nafi’an”(Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat). Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di https://www.bmkg.go.id/iklim/prakiraan-musim.bmkg musim kemarau akan dimulai April di sebagian kecil Nusa Tenggara, menyusul bulan Mei sebagian Bali, Jawa, dan Sumatra. Sejumlah 27,5% di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua akan masuk awal musim kemarau di bulan Juni 2020.

Kondisi saat ini dimasa darurat Covid-19 kita semua sekarang lebih banyak beraktivitas di rumah, Work From Home tentunya lebih berpeluang untuk kembali banyak belajar dengan membaca atau menulis. Kembali tentang hujan, menarik sekali untuk dikaji apakah tentang bagaimanakah tahapan terjadinya hujan, macam hujan dan ukurannya, juga manfaatnya dari sudut pandang sains dan Agama. InshaAllah sebagai langkah awal dicoba menulis tentang tahapan terjadinya hujan.

Hujan adalah rahmat. Bagaimana hujan terbentuk masih merupakan misteri besar bagi orang-orang dalam waktu yang lama. Baru setelah ilmu pengetahuan berkembang dan radar cuaca ditemukan, kebenaran Firman Allah dalam Al Qur’an tentang tahap-tahap pembentukan hujan bisa dijelaskan secara ilmiah dari sudut pandang sains. Pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap, yaitu pertama, “bahan baku” hujan naik ke udara oleh angin, lalu awan terbentuk dam akhirnya curahan hujan terlihat.

Sebelum sains bisa menjelaskan fenomena terjadinya hujan, Al Qur’an 14 abad yang lalu sudah memberikan gambaran.

“Dialah Allah Yang mengirimkan angin yang menggerakkan awan; lalu Ia membentangkannya di langit sesuai dengan kehendak-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kau lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka bila Ia menurunkannya kepada siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang Ia kehendaki, mereka pun bergembira ria” [QS Ar Ruum ayat 48]

Dan kita bisa amati tiga tahap yang disebutkan dalam ayat ini.

Tahap 1: Dialah Allah Yang mengirimkan angin…”

Matahari yang memancarkan sinarnya tidak bisa menyinari dengan intensitas penyinaran yang sama antara satu tempat dengan tempat yang lainnya, kalaupun suatu daerah mendapat intensitas yang hampir sama antara lautan dan daratan daya serap panasnya juga berbeda sehingga menyebabkan perbedaan tekanan udara. Selain rotasi bumi, perbedaan tekanan udara juga menyebabkan terjadinya angin. Angin merupakan udara yang bergerak dari daerah yang mempunyai tekanan tinggi ke daerah yang mempunyai tekanan rendah, atau dari daerah yang bersuhu rendah ke daerah yang bersuhu tinggi. Angin tidak dapat kita lihat, namun dapat dengan mudah kita rasakan.

Kalau kita amati angin akan datang berhembus sebelum turun hujan. Hal ini sesuai QS Al A’raf ayat 57

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu…”

Angin darat dan angin laut terjadi karena perbedaan tekanan udara

TAHAP 2: “…dan yang menggerakkan awan; lalu Ia membentangkannya di langit sesuai dengan kehendak-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal…”

Saat matahari bersinar memancarkan cahaya ke daratan dan lautan terjadi penguapan dari laut, danau dan sungai-sungai. Gelembung-gelembung udara yang tak terhitung yang dibentuk dengan penguapan yang pecah terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut, sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut “perangkap air”. Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air hujan dalam hal ini sangat kecil (dengan diameter antara 0,01 dan 0,02 mm), awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan. Macam awan yang menimbukan hujan baca link https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/meteorologi/jenis-awan-yang-menimbulkan-hujan

Macam-macam Awan.

TAHAP 3: “…lalu kau lihat air hujan keluar dari celah-celahnya.”

Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan partikel-partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan, dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

Demikian juga di QS An Nur Ayat 43 “Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya …”

Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, lagi-lagi Al-Qur’an-lah yang menuntun kita sehingga fenomena alam bisa dijelaskan secara ilmiah dengan fakta-fakta yang rasional. Semua atas ijin dan kehendak Allah Sang Maha Pencipta.

Talaga Enrekang, 13 Ramadhan 1441 Hijriah

Disusun dari berbagai sumber https://www.pakdenono.com/home.htm https://ilmudasar.id/pengertian-angin-darat-dan-angin-laut/ https://archive.kaskus.co.id/thread/7028263/1

Posted on 6 Mei 2020, in informasi, It's Amazing and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: