Hujan dalam Al Qur’an & Sains (2)

Bagian 2. Proporsi Air Hujan


Allahumma shoyyiban nafi’an” Alhamdulillah sejak jam 03.00 WITA dini hari tadi hujan mengguyur ditempatku, sempat berhenti sejenak kemudian berlanjut lagi sampai saat saat meng ‘upload konsep tulisan ini. Air hujan yang jatuh menyentuh atap dan mengusap dedaunan terdengar ritmis ‘pink noise’ sehingga nyaman dirasakan dan kepingin terus berbaring di tempat tidur. Aku coba lawan kenyamanan suasana dengan bangun membuat tulisan ini. Ternyata fenomena ini pernah dijelaskan oleh Naomi Rogers, ahli kronobiologi dari Central Queensland University. Dikutip dari qc.com, kepada koran Sydney Morning Herald sang ilmuwan pernah menuturkan penjelasan secara sains mengapa hujan membuat manusia mudah mengantuk.

Pertama, adalah terkait sinar matahari. Rogers menjelaskan bahwa sinar matahari memicu tubuh manusia untuk menghentikan produksi melatonin. Melatonin sendiri adalah hormon yang membuat kita mengantuk seperti saat di malam hari. Sehingga ketika kita tidak melihat sinar matahari pertama di pagi hari, tubuh kita tidak akan pernah mendapatkan sinyal yang membuatnya perlu diubah ke mode siang hari,” terang Rogers.

Kedua, adalah terkait dengan aroma hujan yang begitu menyenangkan, menenangkan, dan menyejukkan. Hal ini disebabkan oleh reaksi kimia yang terjadi ketika hujan. Selama musim kering, ada beberapa jenis tumbuhan yang mengeluarkan minyak yang kemudian terserap ke dalam tanah. Ketika hujan turun, minyak tersebut akhirnya terbawa oleh air dan tercampur dengan senyawa kimia yang disebut geosemin. Geosemin ini dihasilkan oleh bakteri di dalam tanah. Bercampurnya minyak dari tumbuhan dan geosemin dari bakteri tanah akan menghasilkan aroma “musky”. Aroma “musky” inilah yang menjadi salah satu penyebab orang-orang mudah menguap dan mengantuk.

Ketiga, adalah terkait dengan suara rintik hujan yang memiliki pola ritmis tertentu. Pola ritmis tetes-tetes air hujan yang membentur atap, jendela, payung, ataupun tanah ini disebut juga sebagai “pink noise”. Pink noise merupakan sebuah kategori kebisingan yang berada di rentang frekuensi pendengaran manusia, yakni antara 20 Hz sampai 20.000 Hz. Pink noise ini mempunyai karakter khusus, yakni memiliki volume yang lebih rendah pada frekuensi-frekuensi suara yang lebih tinggi. Berdasarkan beberapa riset, karakter pink noise ini dapat meningkatkan kualitas tidur manusia. Sebab, pink noise dapat menurunkan tingkat aktivitas di dalam otak manusia. Jadi, wajar saat turun hujan apalagi matahari tidak muncul kita merasa lebih mudah mengantuk dan lebih terdorong untuk bermalas-malasan.[1]

Setelah tulisan bagian 1 tentang tahapan terjadinya hujan maka pada bagian 2 mencoba membuat tulisan tentang proporsi hujan atau keteraturan, kesesuaian ukuran (volume-diameter-kecepatan) air hujan. Semoga bermanfaat


Hujan didefinisikan sebagai air yang diturunkan dengan “ukuran yang sesuai” sebagaimana QS Surat Az-Zukhruf 11

“ Ia menurunkan (dari waktu ke waktu) hujan dari langit sesuai dengan ukuran, dan Kami hidupkan dengan itu daerah yang sudah mati. Demikian juga kamu akan dibangkitkan (dari kematian)

“Ukuran” yang disebutkan di ayat ini berkaitan dengan sepasang sifat hujan

Pertama, Keseimbangan Volume Air Hujan dan Air Menguap.

Diperkirakan, dalam satu detik, 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini sama dengan curah air yang jatuh ke bumi dalam satu detik. Ini berarti bahwa air beredar terus-menerus di suatu daur yang seimbang menurut suatu “ukuran”.[2]

Menurut Siklus Hidrologi, dengan adanya penyinaran matahari, maka semua air yang ada dipermukaan bumi baik air laut, danau, jaringan sungai besar kecil, akan berubah wujud berupa gas/uap akibat panas matahari dan disebut dengan penguapan atau evaporasi dan transpirasi. Uap ini bergerak di atmosfer (udara) kemudian akibat perbedaan temperatur di atmosfer dari panas menjadi dingin maka air akan terbentuk akibat kondensasi dari uap menjadi cairan (from air to liquid state). Bila temperatur berada di bawah titik beku (freezing point) kristal-kristal es terbentuk. Tetesan air kecil (tiny droplet) terbentuk oleh kondensasi dan berbenturan dengan tetesan air lainnya dan terbawa oleh gerakan udara turbulen sampai pada kondisi yang cukup besar menjadi butir-butir air. Apabila jumlah butir air sudah cukup banyak dan akibat berat sendiri (pengaruh gravitasi) butir-butir air aka turun ke bumi. Proses turunnya butiran air ini disebut dengan hujan atau presipitasi.[3]

Siklus Air

Kedua, Ukuran dan kecepatan air hujan

Suatu ukuran lain yang terkait dengan hujan adalah mengenai ukuran air hujan dan kecepatan jatuhnya. Ketinggian minimal awan mendung adalah 1.200 meter. Bila jatuh dari ketinggian ini, suatu obyek yang bobot dan ukurannya sama dengan air hujan akan semakin cepat dan jatuh ke tanah dengan kecepatan 558 km/jam. Tentu saja, obyek apa pun yang membentur tanah dengan kecepatan itu akan menyebabkan kerusakan besar. Jika hujan yang terjadi itu jatuh dengan cara seperti itu, semua lahan panenan akan hancur, kawasan pemukiman, perumahan, dan mobil-mobil akan remuk, dan orang-orang tidak bisa berjalan-jalan tanpa perlindungan ekstra. Padahal, perhitungan ini hanya untuk awan setinggi 1.200 meter; ada juga awan mendung setinggi 10.000 meter. Air hujan dari tempat setinggi ini bisa memiliki kecepatan yang amat merusak.

Akan tetapi, kenyataannya tidak begitu. Dari ketinggian berapa pun, kecepatan air hujan hanya 8-10 km/jam kala menimpa tanah. Alasan untuk hal ini adalah bentuk istimewa yang mereka ambil. Bentuk istimewa ini meningkatkan pengaruh pemecah di atmosfir dan mencegah pemercepatan kala air hujan mencapai “batas” kecepatan tertentu.[2]

Bentuk Air Hujan

Butiran hujan memiliki beragam ukuran mulai dari diameter rata-rata 0,1 milimeter (0,0039 in) hingga 9 milimeter (0,35 in), di atas itu butiran akan terpisah-pisah. Butiran kecil disebut butiran awan dan berbentuk bola. Butiran hujan besar semakin pepat di bawah seperti roti hamburger, butiran terbesar berbentuk mirip parasut. Berbeda dengan kepercayaan masyarakat, bentuk butir hujan yang asli justru tidak mirip air mata. Butiran hujan terbesar di Bumi tercatat di Brasil dan Kepulaua Marshall pada tahun 2004—beberapa di antaranya sebesar 10 milimeter (0,39 in). Ukuran besar ini disebabkan oleh pengembunan partikel asap besar atau tabrakan antara sekelompok kecil butiran dengan air tawar yang banyak.

Intensitas dan durasi hujan biasanya berkaitan terbalik yang berarti badai intensitas tinggi memiliki durasi pendek dan badai intensitas rendah memiliki durasi panjang. Butir hujan pada hujan es cair cenderung lebih besar daripada butiran hujan lain. Butir hujan jatuh pada kecepatan terminal, lebih besar untuk butiran besar karena massanya yang lebih besar terhadap rasio tarikan. Di permukaan laut tanpa angin, gerimis 0,5 milimeter (0,020 in) jatuh dengan kecepatan 2 meter per detik (4,5 mph), sementara butiran besar 5 milimeter (0,20 in) jatuh pada kecepatan 9 meter per detik (20 mph) [4]

Jadi ukuran air hujan bila sudah diatas 5 – 10 milimeter akan terpecah menjadi butiran air yang ukuran lebih kecil lagi demikian juga kecepatan maksimalnya sekitar 10 m/s sehingga kehidupan di bumi, tanam-tanaman, hewan da makhluk hidup lainnya tetap terlindungi. Merupakan bukti nyata bahwa terkait hujan membuktikan sebuah rancangan yang menakjubkan terutama proporsi atau kesesuaian ukuran, volume, kecepatan sehingga semuanya dalam keseimbangan dan keteraturan dan semua diciptakan untuk kepentingan manusia sehingga manusia dapat merenungkannya serta memahami kebesaran Allah dan bersyukur atas nikmat-Nya

“Allah Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.” [QS Al-Mulk 3-4]

Bagaimana dengan terjadinya hujan es seukuran bola tenis, hujan batu yang menghancurkan, hujan asam? Kita aka coba menuliskannya di bagian 3 tulisan ini. InshaAllah

Taqabballahu minna waminkum, Selamat HR Idul Fitri 1441 H Minal Aidin wal Faizin Moho Ma’af Lahir & Batin

Talaga Enrekang, 06 Juni 2020

Sumber :

[1] https://kumparan.com/kumparansains/ [2] www.pakdenono.com [3] https://dinus.ac.id/repository/docs/ajar/MODUL_HIDROLOGI_ HIDROLIKA_TERAPAN.pdf [4] https://www.youtube.com/watch?v=6G6omXLTAj0&feature=emb_logo [5] https://id.wikipedia.org/wiki/Hujan

Posted on 6 Juni 2020, in informasi and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: