Category Archives: It's Amazing

Memandang Alam Semesta Dengan Kacamata Al Qur’an

Kajian alam semesta pada artikel ini bersumber dari buku elektronik harun yahya dalam bahasa indonesia yang saya dapatkan tahun 2006. Banyak sumber sejenis barangkali di internet saat browsing, namun sayang kalau buku elektronik yang saya punya hanya tersimpan di laptop.
Enrekang, 01 Ramadhan 1438 H


Menurut data yang diperoleh pada abad ke-20, ternyata bahwa alam semesta ini menjadi ada secara tiba-tiba setelah sebelumnya tidak ada. Teori ini dikenal sebagai teori Ledakan Dahsyat (Big Bang) yang berpandangan bahwa alam semesta ini pada mulanya terjadi dengan peledakan. Ada bukti yang sangat kuat yang mendukung teori Ledakan Dahsyat. Meluasnya alam semesta merupakan salah satunya dan bukti yang paling signifikan mengenai hal ini adalah saling menjauhnya galaksi-galaksi dan benda-benda langit.

Untuk memahami dengan lebih baik, alam semesta bisa dibayangkan sebagai permukaan balon yang digelembungkan. Seperti halnya bagian-bagian permukaan balon yang saling menjauh ketika balon digelembungkan, begitu jugalah angkasa yang saling menjauh tatkala alam semesta meluas. Dalam hal ini, mari kita rujuk ke ayat Al-Qur’an yang relevan. Pada satu ayat, berikut ini dinyatakan mengenai penciptaan alam semesta:

Dengan kekuasaan Kami membangun cakrawala, dan Kami yang menciptakan angkasa luas. (Surat adz-Dzaariyaat, 47)

Pada ayat lain yang mengacu pada langit, difirmankan:

Tidakkah orang-orang kafir mengerti bahwa langit dan bumi semula terpadu (sebagai satu kesatuan dalam penciptaan), lalu keduanya Kami pisahkan? Dan dari air Kami jadikan segalanya hidup. Tidakkah mereka mau beriman juga? (Surat al-Anbiyaa’, 30)

Kata-asal “ratk” tang diterjemahkan sebagai “terpadu” di ayat ini, berarti “sesuatu yang tertutup, padat, kedap, bergabung menjadi satu dalam massa yang berat” menurut kamus-kamus Arab. Maksudnya, ini dipakai untuk dua potong yang berlainan yang membentuk entitas. Pernyataan “pisahkan” adalah kata-kerja “fatk” dalam bahasa Arab dan ini berarti memecah obyek dalam keadaan “ratk”. Sebagai misal, penumbuhan benih dan tampilan pucuk-pucuknya di bumi diungkapkan dengan kata-kerja ini. Kini, mari kita lihat kembali ayat yang menunjukkan bahwa langit dan bumi itu dalam keadaan “ratk”, lalu keduanya diartikan “dipisahkan” dalam artian katakerja “fatk”. Maksudnya, yang satu menerobos yang lain dan membuat jalan keluarnya. Sungguh, bila kita mengingat kejadian pertama Ledakan Dahsyat, kita lihat bahwa bintik yang disebut telur kosmik itu mengandung semua bahan alam semesta. Segala sesuatu, bahkan “langit dan bumi” yang belum tercipta pun, terkandung di bintik ini dalam keadaan “ratk”. Sesudah itu, telur kosmik ini meledak, kemudian semua zat menjadi “fatk”.

Bila kita bandingkan ungkapan-ungkapan di ayat ini dengan bukti ilmiah, kita lihat bahwa ungkapan-ungkapan ini sangat bersesuaian. Yang cukup menarik, temuan-temuan ini belum ada sebelum abad ke-20.

PENCIPTAAN LANGIT

Steven Weinberg, pengarang buku The First Three Minutes, pernah menegaskan bahwa sepintas lalu, tampaknya langit mungkin merupakan suatu “alam tak berubah” yang kokoh. Sesungguhnya, awan-awan berarak-arakan mengejar bulan, kolong langit biru mengelilingi bintang kutub, bulan itu sendiri membesar dan mengecil dalam waktu yang lebih lama, dan bulan dan planet-planet bergerak melalui suatu bidang yang ditentukan oleh bintang-bintang. Akan tetapi, kita tahu bahwa semua ini kejadian setempat yang disebabkan oleh pergerakan dalam sistem matahari kita. Weinberg juga menambahkan bahwa di belakang planet-planet, bintang-bintang tampaknya tidak bergerak.

Memang, dengan pengamatan ke arah langit sepintas lalu, kita merasa bahwa segala benda itu sangat stabil dan tetap. Namun demikian, ini tidak benar. Terdapat kegiatan besar di langit dan fakta ini, yang tak telihat oleh mata telanjang, yang telah tercatat berabad-abad yang lalu di Al-Qur’an. Terdapat banyak ayat di Al-Qur’an yang mengacu pada langit, kebanyakan dalam bentuk jamak. Kata “samawat”, yang bermakna “langit-langit”, dalam bahasa Arab berarti angkasa dan atmosfir bumi.

Hal pertama yang akan kita bahas di sini adalah penggunaan kata “langit” dengan bentuk jamak. Penggunaan bentuk jamak ini merupakan salah satu dari mukjizat Al-Qur’an. Sekarang mari kita jelaskan mengapa.

Bayangkan bahwa anda keluar di udara terbuka dan mengarahkan kepala anda menujui langit. Apa yang anda lihat? Jika musim panas, anda akan melihat langit biru cerah atau beberapa awan melayang di langit; dan jika musim dingin, langit abu-abu berkabut tertutup oleh awan. Apa pun yang anda lihat, anda tidak akan mampu melihat atmosfir yang mengelilingi bumi. Anda tak akan pernah tahu bahwa atmosfir ini tersusun dari beberapa lapisan. Bahwa Al-Qur’an membuat acuan rinci ini yang tak teramati dengan mata telanjang itu merupakan sepotong bukti besar bahwa inilah kata-kata Allah:

Dia yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis; tak akan kau lihat ketidakseimbangan dalam ciptaan (Allah) Yang Maha Pemurah. Balikkanlah pandanganmu sekali lagi, tampakkah olehmu ada yang cacat? Lalu ulanglah pandanganmu sekali lagi; pandanganmu akan berbalik kepadamu, letih dan membingungkan. (Surat al-Mulk, 3-4)

Angkasa bisa dibayangkan sebagai rongga besar: rongga amat besar yang tak berbatas, suatu rongga yang mengandung bintang-bintang, planet-planet, dan benda-benda yang bergerak. Akan tetapi, angkasa itu bukan rongga itu sendiri. Angkasa merupakan suatu “sistem” yang terdiri atas berbagai bintang, sistem matahari, planet, satelit, dan komet yang semuanya tak terhitung banyaknya. Telah dinyatakan dalam Al-Qur’an bahwa langit dan angkasa diciptakan tanpa cacat dalam “tatanan besar”:

Tidakkah mereka melihat langit di atas mereka? Bagaimana Kami membuatnya dan menghiasinya, dan tiada cacat padanya? (Surat Qaaf, 6)

BINTANG DAN PLANET

Mari kita amati maksud kata “bintang” dalam Al-Qur’an. Bintang-bintang yang ditunjukkan dengan kata “najm” (bintang) dan “kandil” (pelita) mempunyai dua fungsi utama seperti yang tersirat dalam ayat-ayat. Mereka sumber cahaya dan dimanfaatkan untuk navigasi.

Terutama dalam ayat-ayat yang menggambarkan hari kebangkitan, ditekankan bahwa cahaya bintang keluar dan menjadi mengecil. Untuk matahari, yang merupakan bintang juga, dipakai kata “kandil”. Kata “kandil” digunakan juga bila mengacu pada bintang-bintang yang menghiasi langit. Sekalipun demikian, ada perbedaan yang amat penting ketika kata “nur” (sinar) dipakai untuk bulan. Dengan cara ini, bintang dan bukan bintang saling berbeda. Fakta ini, yang tidak mungkin diketahui 14 abad silam, merupakan satu mukjizat Al-Qur’an.

Kita telah menyebutkan bahwa fungsi-kedua bintang-bintang sebagaimana yang dirujuk dalam ayat-ayat itu merupakan pedoman navigasi. Ayat ini menjelaskan bahwa manusia dapat menentukan arah dengan bantuan bintang di langit. Di semua ayat ini, kata “najm” digunakan. Sungguh, sebelum penemuan kompas, yang mempunyai peran yang sangat penting pada awal-mula penemuan geografis pada Zaman Pertengahan, navigasi hanya bisa terwujud dengan bantuan bintang-bintang pada perjalanan malam hari.

Bagaimana mungkin bahwa bintang-bintang menunjukkan arah? Ini mungkin hanya jika tersusun dalam suatu tatanan di tempat tinggal tetap mereka. Jika suatu bintang terlihat di suatu tempat pada suatu malam, dan di tempat lain pada malam lain, maka dengan ini mustahil mendapatkannya. Dalam komnteks ini, tempat tertentu yang di situ bintang-bintang muncul di langit menjadi sangat penting. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

Selanjutnya, Aku bersumpah demi tempat-tempat terbenamnya bintang-bintang, dan itu sungguh suatu sumpah yang amat besar kalau kamu tahu. (Surat al-Waaqi’ah, 75-76)

MATAHARI DAN BULAN

Ada banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyebut matahari dan bulan. Bila kata-kata Arab ini diselidiki, terungkaplah sifat yang menarik. Pada ayat-ayat ini, kata “siraj” (lampu) dan “wahhaj” (terang-membara) dipakai untuk matahari. Untuk bulan, kata “munir” (cerah berbinar-binar) digunakan. Sungguh, manakala matahari menghasilkan panas dan cahaya yang amat besar sebagai akibat dari reaksi nuklir di dalam, bulan hanya memantulkan cahaya yang diterimanya dari matahari. Ayat-ayat yang menunjukkan perbedaan ini adalah:

Tidakkah kamu lihat bagaimana Allah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, dan membuat bulan yang bercahaya di antaranya, dan membuat matahari sebagai pelita (yang cemerlang)? (Surat Nuuh, 15-16)

Telah Kami bangun di atas kamu tujuh cakrawala dan menempatkan (di situ) cahaya yang cemerlang. (Surat an-Nabaa’, 12-13)

Mahasuci Dia Yang telah menjadikan gugusan bintang di langit dan menempatkan sebuah pelita (yang cemerlang) dan sebuah bulan yang memberi penerangan. (Surat al-Furqaan, 61)

Perbedaan antara matahari dan bulan itu sungguh merupakan bukti di ayat ini. Yang satu dilukiskan sebagai sumber cahaya dan yang lain sebagai pemantul cahaya. Mustahil rincian seperti itu telah diketahui pada waktu itu. Baru berabad-abad kemudian manusia mulai mempunyai pengetahuan ini. Karena itu, fakta bahwa informasi ini telah diberikan di Al-Qur’an merupakan satu bukti bahwa Al-Qur’an diwahyukan oleh Tuhan.

Sekarang, mari kita alihkan perhatian kita ke karakteristik hebat lainnya yang terdapat pada benda-benda langit-yang merupakan pergerakan mereka di angkasa.

ORBIT YANG TERPAPAR DI AL-QUR’AN

Di atas, kita telah menyatakan bahwa benda-benda langit bergerak di angkasa. Pergerakan-pergerakan ini terkendali sepenuhnya dan semua benda bergerak dalam suatu orbit yang terhitung. Dalam Al-Qur’an, ayat-ayat tertentu mengacu pada pergerakan matahari dan bulan sebagai berikut:

“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan (secara eksak).” (Surat ar-Rahmaan, 5).

“Tiada semestinya matahari menyusul bulan, dan malam tak akan mendahului siang. Masing-masing berenang dalam garis edarnya.” (Surat Yaasiin, 40).

Sebuah ayat lain menyatakan efek yang sama:

Dialah Yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing berenang dalam garis edarnya. (Surat al-Anbiyaa’, 33)

Menurut sebuah teori mutakhir yang terakui, benda-benda yang padat dan sangat besar di alam semesta memaksakan kekuatan gravitasi terhadap benda-benda yang lebih kecil. Sebagai misal, bulan membuat orbit mengelilingi bumi, yang mempunyai volume yang lebih besar. Bumi dan planet-planet lain di tatasurya ini bergerak di suatu orbit mengelilingi matahari. Masih ada sistem besar lain yang dikelilingi oleh matahari di suatu orbit. Hal terpenting di semua rincian ini adalah bahwa tak satu pun dari bintang, planet, dan benda-benda lainnya di angkasa bergerak secara tak terkendali, memotong orbit lain, atau pun saling berbenturan.

Al-Qur’an mengisyaratkan pergerakan benda-benda secara serasi ini sebagai berikut:

Demi langit yang pebuh jalan-jalan. (Surat adz-Dzaariyaat, 7)

Matahari, sebagai salah satu dari trilyunan bintang di alam semesta, melakukan perjalanan lebih dari 17 juta kilometer per hari di angkasa. Perjalanan matahari ini ditunjukkan oleh Allah sebagai berikut:

Dan matahari beredar menurut waktu yang sudah ditentukan baginya; itulah ketentuan Yang Mahaperkasa, Mahatahu. (Surat Yaasiin, 38)

ATAP YANG TERJAGA BAIK

Kami jadikan langit sebagai atap yang terjaga baik, tetapi mereka berpaling dari tanda-tanda yang ada. (Surat al-Anbiyaa’, 32)

Hampir semua orang pernah melihat gambar permukaan bulan. Struktur permukaan ini sangat tidak rata karena kejatuhan meteor-meteor yang tak terhitung jumlahnya. Besarnya kawah-kawah yang terbentuk dengan meteor-meteor ini merupakan karakter bulan yang paling khas. Segala stasiun angkasa atau tempat tinggal yang didirikan di permukaan bulan tanpa dengan perisai khusus akan sangat berkemungkinan untuk rata dengan tanah. Satu-satunya cara untuk mencegahnya adalah “menjaga”-nya dengan berbagai cara.

Rincian ini, yang hampir tidak pernah kita pikirkan, disediakan bagi bumi dengan cara yang sangat alamiah. Karena itu, orang-orang tidak perlu mengambil tindakan ekstra untuk bertahan hidup. Atmosfer bumi menghancurkan semua meteor besar dan kecil yang mendekati bumi, menyaring sinar yang berbahaya di angkasa dan, dengan demikian, melaksanakan proses yang vital demi kelangsungan hidup manusia.

Banyak sinar yang berbahaya-dan bahkan fatal-mencapai bumi dari matahari dan bintang-bintang lain. Sumber utama sinar-sinar yang berbahaya ini terutama adalah ledakan energi, “kobaran” di matahari, bintang terdekat dengan bumi.

Selama matahari ini bersorot, suatu awan plasma terlempar ke angkasa dengan kecepatan 1.500 km/detik. Awan plasma ini, yang tersusun dari proton yang bermuatan positif dan elektron yang bermuatan negatif, menghantarkan listrik. Ketika awan itu mendekati bumi dengan kecepatan 1.500 km/detik, awan ini mulai menghasilkan arus listrik di bawah pengaruh bidang magnet di sekeliling bumi. Di sisi lain, bidang magnetik bumi itu mengerahkan gaya pendorong terhadap awan plasma tersebut yang mengalir langsung melalui ini. Gaya ini menghentikan pergerakan awan itu dan menjaganya pada jarak tertentu. Kini, mari kita amati daya awan plasma yang “dihentikan” sebelum mencapai bumi.

Walaupun awan plasma itu tertahan oleh bidang magnetik bumi, pengaruhnya masih tercerap dari bumi. Dengan mengikuti kobaran kuat tersebut, transformer-transformer bisa meledak di saluran-saluran yang bertegangan tinggi, jaringan komunikasinya bisa putus atau gabungan jaringan listriknya bisa berhamburan.

Di suatu ledakan bintik-matahari, energi yang diluncurkan akan terhitung sama dengan 100 trilyun kali energi bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima. Limapuluh-delapan jam sesudah kobaran, aktivitas yang menonjol bisa diamati pada jarum kompas, dan panasnya melonjak sampai 2.500 C pada ketinggian sekitar 250 kilometer di atas atmosfir.

Sekalipun demikian, arus partikel lain disebarkan dari matahari dengan kecepatan yang relatif lebih rendah, kira-kira 400 km/detik. Ini disebut “angin matahari.” Angin matahari dikendalikan dengan lapisan partikel bermuatan yang disebut “Lajur Radiasi Van Allen” yang dihasilkan di bawah pengaruh bidang magnetik bumi dan, dengan demikian, tidak membahayakan bumi. Pembentukan lapisan ini dimungkinkan karena karakteristik inti bumi. Inti ini mengandung logam-logam magnetik seperti besi dan nikel. Yang lebih penting adalah bahwa nukleusnya tersusun dari dua struktur yang berbeda. Inti dalamnya padat, sedangkan inti luarnya cair. Dua lapisan inti ini masing-masing berputar. Pergerakan ini menciptakan efek magnetik di logam-logam yang mengarah pada pembentukan bidang magentik. Lajur Van Allen itu merupakan perpanjangan dari bidang magnetik ini yang merentang ke jangkauan atmofir terluar. Bidang magnetik ini melindungi bumi terhadap bahaya-bahaya yang mungkin berasal dari angkasa. Angin-angin matahari tidak bisa lewat melalui Lajur Van Allen, 40.000 mil dari bumi. Bila dalam bentuk partikel-partikel yang bermuatan listrik, mereka menjumpai bidang magnetik ini, terurai dan tersebar di sekitar lajur ini.

Tepat seperti Lajur Van Allen, atmosfir bumi juga melindungi bumi dari efek-efek angkasa yang merusak. Kami menyebutkan bahwa atmosfir melindungi bumi dari meteor. Akan tetapi, ini bukan hanya ciri atmosfir. Sebagai misal, suhu minus 273 di angkasa luar, yang disebut “nol mutlak” yang akan berdampak fatal bagi orang-orang, sedangkan suhu di atmosfir bumi lebih tinggi secara permanen.

Yang lebih menarik adalah bahwa atmosfir hanya membiarkan masuk sinar-sinar, gelombang-gelombang radio, dan cahaya-cahaya yang tidak berbahaya, karena ini merupakan unsur-unsur yang vital bagi kehidupan. Sinar ultraviolet, yang hanya dibiarkan masuk sebagian oleh atmosfir, sangat penting untuk fotosintesis tanaman dan untuk kelangsungan hidup semua makhluk hidup. Pancaran ini, yang terpancar dengan sangat kuat dari matahari ke bumi, disaring melalui lapisan ozon atmosfir dan hanya sebagian yang diperlukan saja yang mencapai bumi. Sinar matahari adalah salah satu persyaratan hidup yang paling mendasar.

Singkatnya, terdapat suatu sistem hebat yang berfungsi di bumi yang mencakup-diri dan melindunginya dari bahaya luar. Dalam Al-Qur’an, keadaan bumi yang berperisai diungkapkan dengan ayat berikut ini:

Dan Kami telah menjadikan langit (sebagai) atap yang terjaga baik; (namun) mereka berpaling dari ayat-ayat ini. (Surat al-Anbiyaa’, 32)

Tiada keraguan bahwa pada abad ke-7, mengetahui perlindungan atmosfir atau pun keberadaan Lajur Van Allen adalah mustahil. Sekalipun begitu, ungkapan “atap yang terjaga baik” menjelaskan dengan sempurna perantara-perantara pelindung di sekitar bumi yang belum ditemukan hingga zaman modern. Jadi, ayat tersebut yang menyebut langit sebagai “atap yang terjaga baik” menunjukkan bahwa al-Qur’an dikirim oleh Sang Pencipta Yang berpengetahuan atas segala sesuatu.

RELATIVITAS WAKTU

Relativitas waktu adalah fakta ilmiah yang terbukti saat ini. Akan tetapi, hingga Einstein mengetengahkan “teori relativitas” pada awal abad 20, tak seorang pun mengira bahwa waktu bisa relatif dan bergantung pada kecepatan dan massa.

Namun ada pengecualian! Al-Qur’an telah mengeluarkan informasi tentang relativitas waktu! Tiga ayat mengenai hal ini ialah:

Mereka meminta kepadamu supaya azab dipercepat, tetapi Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Sungguh, satu hari menurut Allah seperti seribu tahun dalam perhitungan kamu. (Surat al-Hajj, 47)

Ia mengatur semua urusan dari langit sampai ke bumi, kemudian (semua itu) kembali kepada-Nya dalam satu hari, yang kadarnya seribu tahun menurut perhitungan kamu. (Surat as-Sajdah, 5)

Para malikat dan roh naik kepada-Nya pada suatu hari yang ukurannya limapuluh ribu tahun. (Surat al-Ma’aarij, 4)

Sebagai kitab yang diwahyukan pertama kali pada 610, Al-Qur’an yang menyiratkan relativitas yang sangat dini merupakan bukti lain bahwa inilah kitab ilahi.

PERPUTARAN BUMI

Bahasa Arab, bahasa pewahyuan Al-Qur’an, merupakan bahasa yang maju dan sangat kaya. Kosakatanya sangat luas dan variasi kata-katanya banyak. Karena alasan ini, beberapa kata verbal Arab tidak bisa diterjemahkan ke berbagai bahasa dengan kata tunggal. Sebagai contoh, kata “hasyiya” berarti “takut yang disertai takjub” (untuk berbagai jenis rasa takut lain dipakai kata-kata lain). Contoh lain, kata “karia” dipakai untuk mengacu pada “kemalangan yang menohok”, yakni Hari Pembalasan.

Salah satu kata verbal adalah “takwir”. Dalam bahasa Indonesia, ini berarti “menumpuk benda-benda seperti menumpuk kain yang terhampar”. Sebagai misal, dalam kamus-kamus Arab kata ini dipakai untuk tindakan saling membungkus, dengan cara seperti surban. Sekarang mari kita lihat sebuah ayat yang menggunakan kata “takwir”:

Dialah Yang menciptakan langit dan bumi dengan sebenarnya. Dia menutupkan malam ke atas siang dan menutupkan siang ke atas malam. (Surat az-Zumar, 5)

Informasi yang terdapat di ayat tersebut yang mengenai saling-bungkus antara siang dan malam itu mencakup informasi yang akurat tentang bentuk bumi. Situasi ini bisa benar hanya jika bumi ini bundar. Ini berarti bahwa dalam Al-Qur’an, perputaran bumi telah diisyaratkan.

Akan tetapi, paham astronomi tentang waktu, mencerap dunia secara berbeda. Sebagaimana yang telah kami sebutkan, lalu dikira bahwa dunia adalah planet datar dan semua penjelasan dan perhitungan ilmiah didasarkan pada kepercayaan ini. Akan tetapi, karena Al-Qur’an itu firman Allah, kata-kata yang paling benarlah yang dipakai dalam memerikan alam semesta.

FUNGSI GUNUNG

Menurut temuan-temuan geologis, pegunungan itu muncul sebagai hasil dari pergerakan dan perbenturan pelat raksasa yang merupakan kerak bumi. Pelat-pelat ini amat besar dan membawa semua benuanya. Bila dua pelat bertabrakan, yang satu biasanya tergelincir di bawah yang lain dan puing-puing di antara keduanya terangkat. Tonjolan besar di puing-puing yang terpadatkan ini membentuk pegunungan dengan terangkat lebih tinggi daripada sekelilingnya. Sementara itu, tonjolan yang merupakan pegunungan bergerak di bawah tanah selain di atas tanah. Ini berarti bahwa pegunungan mempunyai bagian yang terseret ke bawah sebesar bagiannya yang terlihat. Perpanjangan pegunungan di bawah tanah ini mencegah kerak bumi dari tergelincie pada lapisan magma atau antara lapisan-lapisannya.

Dengan penjelasan ini, salah satu dari sifat pegunungan yang paling bermakna adalah formasinya di titik-titik gabung pada pelat-pelat bumi yang tertekan bersama-sama dengan berdekatan ketika mendekat dan “memancangkan” diri. Artinya, kita bisa mempersamakan pegunungan dengan paku-paku yang merekatkan potongan-potongan kayu.

Selanjutnya, tekanan yang didesakkan oleh pegunungan terhadap kerak bumi dengan massa yang amat besar itu mencegah pergerakan magma di inti bumi dari penjangkauan bumi dan penghancuran kerak bumi. Lapisan tengah bumi, yang disebut inti, merupakan kawasan yang terbuat dari bahan-bahan yang mendidih di suhu yang mencapai ribuan derajat. Pergerakan di inti ini menyebabkan pemisahan bagian-bagian untuk tegak di antara pelat-pelat yang membereskan bumi. Pegunungan yang tegak di bagian-bagian ini menghalangi pergerakan ke atas dan melindungi bumi dari gempa bumi yang keras.

Sangat menarik untuk dicatat bahwa fakta-fakta teknis ini yang ditemukan oleh geologi modern di masa kita sekarang telah terungkap dalam Al-Qur’an ribuan tahun yang lalu. Dalam suatu ayat tentang pegunungan, dinyatakan dalam Al-Qur’an:

Dia menciptakan langit tanpa tiang yang dapat kau lihat; Dia memancangkan di atas bumi gunung-gunung supaya tidak menggoyangkan kamu; dan Dia menebarkan di dalamnya binatang-binatang dari segala jenis. (Surat Luqman, 10)

Dengan ayat ini, Al-Qur’an menolak takhyul yang biasanya diakui pada waktu itu. Dengan mempunyai pengetahuan astronomis primitif seperti masyarakat-masyarakat lain pada waktu itu, orang-orang Arab mengira bahwa langit terangkat tinggi di atas gunung. (Inilah kepercayaan tradisional yang kemudian ditambahkan di Perjanjian Lama untuk menjelaskan alam semesta.) Kepercayaan ini berpendapat bahwa ada pegunungan tinggi di dua ujung bumi yang datar. Inilah “penopang” langit. Pegunungan ini dikira sebagai tiang yang menyangga langit di atas tempatnya. Ayat tersebut menolak hal ini dan menyatakan bahwa langit itu “tanpa penopang”. Fungsi geologis sejati juga diungkapkan: untuk mencegah getaran. Sebuah ayat lain menekankan hal itu pula:

Dan Kami jadikan di atas bumi gunung-gunung, supaya bumi tidak bergoyang bersama mereka, dan Kami jadikan lorong-lorong lebar di antaranya, supaya mereka mendapat petunjuk. (Surat al-Anbiyaa’, 31)

Sumber : Harun Yahya

‘Merentanglebarkan’ Langkah Dan Cakrawala Berfikir Generasi Muda

Akhir tahun 2012, ditengah kegiatan English Camp di Kampus muncul wacana untuk memberangkatkan santri ke kampung Inggris di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri Jawa Timur. Gagasan semakin diperkuat dengan membuat perencanaan, termasuk sosialisasi rencana ke Bapak Ketua Umum Yayasan Pendidikan Islam Enrekang Prof.Dr.Ir.H.Beddu Amang, MA sewaktu meeting di Jakarta disela-sela Laporan Pendidikan awal bulan April 2013.

IMG_2459

Proposal kegiatan dengan rincian anggaran mulai disusun, sosialisasi ke calon peserta di galakkan. Sebagai sebuah lembaga dengan Visi “Terwujudnya Generasi Islami yang bermuansa tiga dimensi; Iman, Ilmu Dan Amal Dengan Imtaq Dan Ipteks Yang Seimbang” tentunya harus memiliki program dengan misi yang konkret. Salah satu sasaran prioritas adalah pengembangan berbahasa Inggris dan Arab di kampus yang selama ini belum optimal.CIMG8418Disamping itu, merubah cara pandang dan membuka cakrawala berfikir mereka terhadap dunia luar juga tidak bisa diabaikan. Sehingga diramulah kegiatan holiday diisi dengan belajar bahasa dan tambahan rekreasi yang bersifat mendidik.

???????????????????????????????Tidak mudah untuk mengajak para pelajar yang sudah merasa tenang dan tentram beraktivitas diseputaran kampung halamannya. untuk mau diajak ke luar. Sebenarnya tidak sedikit pula yang pergi untuk merantau apakah melanjutkan studi ataupun bekerja. Beragam pula daerah tujuan mereka, ada di Irian, Jawa, Kalimantan bahkan ke Malaysia. Tapi bagi santri pelajar tersebut bepergian jauh dari orangtua dan kampung halaman adalah pengalaman pertama.

IMG_2695Enrekang yang memiliki keadaan geografis 90% berupa pegunungan menghasilkan coklat/kakao, kopi yang terkenal di dunia, cengkeh, dan sayur mayur yang melimpah serta buah-buahan sangat mencukupi untuk hidup lebih dari cukup bagi sebagian besar masyarakat enrekang yang di pedesaan. Sedangkan yang tinggal di kota mereka menggeluti bisnis perdagangan dan jasa, selain yang berfrofesi sebagai pegawai baik negeri maupun swasta.

IMG_1254Akhirnya, sebanyak 26 santri dengan 16 pelajar santri putri dan 10 pelajar santri putra pada tanggal 8 Juni 2013 diberangkatkan ke Jawa didampingi  orang guru pembinanya. Sarana transportasipun dipilih menggunakan sarana transportasi laut dan kembalinya menggunakan transportasi udara. Sedangkan perjalanan daratpun semula dalam perencanaan kombinasi bus dan kereta api, namun karena sesuatu hal perjalanan kereta api batal. Sarana transportasipun diragamkan dengan tujuan agar pelajar santri memperoleh pengalaman sebesar-besarnya.

IMG_1266Menggunakan KM. Lambelu dari Port Of Makassar berangkat menuju Tanjung Perak Surabaya memakan waktu sektar 24 jam perjalanan. Berbagai cerita dan pengalaman mereka dapatkan dengan perjalanan laut dan sesampainya di Tanjung Perak Surabaya perjalanan ke Pare Kediri menggunakan perjalanan darat dengan bus. (lihat di catatan perjalanan 01-03).

IMG_1149Dimulailah kegiatan holiday diisi dengan belajar Speaking di kampung Inggris selama dua pekan. Dengan lima kali pertemuan dalam sehari, yaitu dua kegiatan di Asrama/Camp dengan English Areanya di malam hari dan subuh serta kewajiban setor diary harian menggunakan bahasa Inggris. Sedangkan tiga pertemuan lainnya pada pagi, siang dan sore.  Speak Up, Tic Talk dan Pronoun menjadi santapan sehari-hari dan kelas pembelajaran yang dibimbing oleh tutor yang berpengalaman.

DSCN9285Urusan makanan, sangatlah sederhana, sesederhana harga makanannnya. Kalau satu porsi makanan sederhana di Enrekang seharga Rp. 5000,- s.d 7.000,- di Pare Kediri di dapatkan dengan Rp. 3500,-  s.d 5000,-.  Demikian juga dengan menu dan lauk yang agak diatasnya harganya tetap lebih murah dibandingkan dengan di kampung halaman Enrekang. Transportasi keseharian di kampung Inggris juga unik, karena rata-rata menggunakan sepeda onthel yang dikayuh sehingga menjadi ciri khas tersendiri saat mengunjungi kampung Inggris tersebut.

IMG_1045Pada hari sabtu dan minggu dimanfaatkan untuk ‘menjelajahi kampung Inggris dan Kota Pare. Menggunakan sepeda onthel mereka berbarengan berkeliling kampung inggris dan kota pare untuk melihat, dan berbelanja barang-barang yang berlabel kampung nggris untuk tandai jejak diri pernah ke pare. meluncur pernyataan dari beberapa pelajar santri, mereka ingin kembali tahun depan pada saat liburan, pingin belajar lagi di kampung Inggris daripada liburan hanya tinggal di rumah dan kurang mendapatkan manfaat, lebih baik pergi belajar.

IMG_1343Setelah selesai program belajar speaking di Mr. BOB English Club selama dua pekan, rombongan pelajar santri menikmati rekreasi di Jatim Park, Batu Malang. Mencari tantangan dan menguj nyali disediakan dengan wahana yang beragam. naik rolling custer, tornado, masuk rumah misteri, rumah hantu, dan wahan lain yang menantang membuat mereka terbuai dan sangat menikmati. DSCN9352Setelah beristirahat di Nganjuk dua hari diajaklah lagi berwisata di Danau Sarangan Magetan dan saat menjelalang kepulangan ke Makassar melalui jalur udara, merekapun sempat berkeliling di Surabaya dengan tujuan Gramedia Tunjungan Plaza, Pusat Grosir Surabaya dan Masjid Al Akbar Surabaya.

IMG_1478Tiga pekan lamanya 26 pelajar santri dari Enrekang, Sulawesi Selatan belajar dan berkeliling di Jawa Timur dengan kegiatan belajar speaking dan rekreasi edukasi. Pengalaman telah didapatkan, wawasan dan  cakrawala berfikir semakin meluas, keinginan belajar semakin bertambah. Mudah-mudahan semua dapat mengambil hikmah dan manfaatnya !

Guntur Bertasbih Memuji-NYA

Tiga juta guntur dalam setahun. Sumber energi yang bergerak pada kecepatn 96.000 km/jam dan melepaskan panas 30.000o. Pernahkah anda berpikir bagaimana guntur–sebagai salah satu peristiwa atmosfir terhebat yang Allah ciptakan–itu tebentuk dan bagaimana ia mampu melepaskan sejumlah energi yang demikian besar?

Selama hujan, guntur dan kilat yang tersusun dari pembentukan cahaya-cahaya terang akibat pelepasan energi listrik di ruang atmosfir, sesungguhnya merupakan sumber energi yang menghasilkan listrik lebih besar dari pada ribuan pembangkit listrik–di samping sebagai fenomena iklim. Jawaban atas pertanyaan bagaimana sumber-sumber energi alam ini terbentuk dan betapa besarnya sumber-sumber tersebut melepaskan cahaya dan panas adalah sebuah keajaiban penciptaan yang mengungkapkan kebesaran dan keagungan Allah swt. yang abadi.

Kehebatan pembentukan dalam sekejap: keajaiban kilat dan petir

  • Energi yang dilepas oleh sekali kilatan petir lebih besar dari pada energi yang dihasilkan seluruh pembangkit listrik di Amerika.
  • Satu kilatan petir dapat menyalakan 100 watt bola lampu selama lebih dari tiga bulan.
  • Pada titik sentuh petir ke bumi, cuaca memanas hingga 25.000o C. kecepatan kilatan petir 150.000 km/detik dan rata-rata ketebalannya 2,5-5 cm.
  • Petir menghasilkan molekul nitrogen yang dibutuhkan bagi tumbuh-tumbuhan di Bumi utuk menunjang kehidupanya.
  • Setiap petir rata-rata memiliki 20.000 amper daya listrik. Seorang tukang las hanya menggunakan 250-400 amper untuk mengelas baja.
  • Petir bergerak pada kecepatan 150.000 km/detik, hampir setengah kecepatan cahaya dan 100.000 kali lebih cepat dari kecepatan suara.

Suara yang dilepaskan oleh satu kilatan lebih besar dari pada cahaya 10 juta bola lampu berdaya 100 watt. Ini menerangkan; apabila setiap rumah di Istanbul menyalakan satu bola lampu, pancaran cahaya dari satu kilatan petir akan lebih besar. Allah menyatakan fenomena kilat yang menakjubkan ini seperti “…kilauan kilatnya hampir membutakan pandangan.” (al-Nûr: 43) baca selengkapnya

Selamat Hari Raya ‘Idul Fitri 1432 H

Penentuan Tarikh 1 Syawal 1432 H sudah diumumkan. Dari Muhammadiyah 1 Syawal 1432 H  bertepatan  hari senin petang (matahari tenggelam) sehingga berlebaran pada Selasa, 30 Agustus 2011 sedangkan Pemerintah dari sidang Istbat  hilal belum memenuhi syarat masuk bulan baru sehingga puasa digenapkan dan berlebaran pada Rabu, 31 Agustus 2011.

Kenapa bisa berbeda ya ?


Di media elektronik ramai perdebatan tentang perbedaan penentuan 1 Syawal 1432 H. Masing-masing mengeluarkan dasar penentuan untuk memperkuat argumentasinya. Ada yang cukup berdasarkan Hisab dengan wujudul hilalnya, ada yang menggunakan Hisab dan Rukyah dan sering terdengar istilah Wujudul HilalRukyatul Hilal,Imkanur Rukyat MABIMS dengan 2 derajatnya. Tentu masyarakat awam yang menyaksikan perdebatan yang terus berkelanjutan pada siaran berita pada pagi, siang, sore dan petang bahkan sampai malam menambah jam perdebatan. Ada seorang pengusul dalam sidang Istbat, agar disepakati bersama kriteria baku yang menjadi pegangan oleh semua ormas dan yang berkewenangan dalam penentuan kalender Islam untuk menghindari perbedaan. Setuju !!!

Lebaran bersamaan tentu keinginan semua keluarga, masyarakat. Terasa lebih semarak, ramai, gembira bersama dan bisa saling mengunjungi tanpa menunda hari karena ada perbedaan. Tetapi kalaupun terjadi perbedaan tentu ada hikmahnya. Ada hadits yang sangat populer dikalangan penceramah, aktivis dakwah, penulis bahkan masyarakat luas   اخْتِلاَفُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ  yang artinya “Perselisihan umatku adalah rahmat” walaupun ada pendapat ahli hadits bahwa hadits ini ‘tidak ada asalnya’ dan belum mendapatkannya baik dengan sanad shahih, dha’if (lemah), maupun maudhu’ (palsu).

Tulisan yang sedang pembaca simak itupun salah satu sisi positip dari perbedaan penentuan 1 Syawal 1432 H. Dari perdebatan sidang Istbat dan kelanjutannya di acara berbagai station televisi saya jadi ingin lebih tahu tentang  Wujudul Hilal, Rukyatul Hilal dan Imkanur Rukyat MABIMS dengan 2 derajatnya bahkan yang terkait dengan ilmu astronominya sendiri. Sungguh menarik apa yang dipresentasikan pakar dari BOSSCA Observatory, LAPAN yang menyatakan tidak mungkin melihat hilal untuk kawasan Saudi, Malaysia, Singapura dan Indonesia berada digrafis putih sehingga kemungkinan belum masuk 1 Syawal 1432 H. Tetapi berita televisi tadi pagi di Saudi, Malaysia, Singapura dan Brunei sudah berlebaran…naah, menarik bukan ? Atau di negara -negara tersebut juga banyak ormas sehingga masing-masing memiliki perbedaan dasar penentuan tarikhnya ? Read the rest of this entry

Cara Belajar Yang Efektif

Banyak cara dan metode yang bisa diterapkan agar belajar kita menjadi efektif dan semua cara/metode tergantung kepada masing-masing. Jadi bagaimana agar belajar kita bisa efektif ? Pada kesempatan apel sabtu pagi untuk pertama kali beberapa hari lalu, selaku penanggungjawab pengelolaan pendidikan yang bertugas memberikan amanah sengaja saya pilih tema bagaimana cara belajar yang baik dan efektif. Cara belajar yang efektif saya singkat dengan IR5 (Intention, Read, Record, Review, Repeat dan Refreshing). Dengan bahasa sederhana saya sampaikan melalui apel waktu itu. Dan dari situlah kemudian saya coba susun artikel berikut setelah saya coba kumpulkan bahan dari berbagai sumber, apakah buku, dari artikel di internet bahkan dari handphone sederhana yang mengiringi setiap waktu. Mudah-mudahan bermanfaat !


1. Intention (Niat)

Dari fasilitas dictionary dari handphone Samsung S-5650 saat diketikkan intention, muncul kalimat ‘Intention is an idea or plan of what you are going to do’ yang bila di translate menggunakan indopreterpro intention adalah suatu ide atau rencana dari apa yang kamu rencanakan. Dalam islam niat menurut istilah syar’i adalah bermaksud kepada sesuatu yang disertai perbuatan. Jika bermaksud kepada sesuatu tetapi tidak disertai perbuatan maka ini dinamakan azzam. Imam Nawawi menjelaskan bahwa sabda Rasulullah shalallahu wa ‘alaihi wa sallam Setiap amalan tergantung niatnya dibawa pada sihhatul a’mal (sahnya amalan) atau tashhihul a’mal (pembenaran amal) atau qabulul a’mal (diterimanya amalan) atau kamalul a’mal (sempurnanya amalan).

Dari Amirul Mu’minin Abu Hafs ‘Umar ibnu Al-Khathab radhiyalallahu ta’ala ’anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya… (HR. Bukhari dan Muslim) Read the rest of this entry

Kritik Sosial Sebagai Respon Tindakan ‘Asosial’

Sehari setelah selesai mengikuti Seminar Internasional ‘Gerakan Anti Radikalisme’ Di Makassar, 25 Mei 2011 di Balai Prajurit Jenderal M. Yusuf saya membuat artikel yang sempat pula saya sampaikan dalam sebuah apel pagi yang berjudul ‘Antara Ada Dan Tiada’.  Saya kembali teringat karena ketiadaan sesuatu sehingga memunculkan sesuatu yang lain. Dalam sebuah forum rapat di negeri beragam suku budaya, seorang dengan inisial elpe ( he.he, bukan lauk-pauk lho) yang berpendidikan ‘level tinggi’ mengatakan kalimat perbandingan ber‘level rendah’. Saya katakan ber’level rendah’ karena ada kalimat lontarannya yang (1). sangat diskriminatif dan cenderung menyerang kelompok, suku tertentu, (2). tidak mencermati siapa-siapa yang hadir dan kalimat apa yang seharusnya cocok dan tepat untuk diucapkan sehingga dapat menyinggung orang/suku lain, (3) beberapa kalimatnya saling bertentangan, disaat tertentu mengatakan ‘pluralis’ di saat yang lain pedas terucap kalimat-kalimat diskriminatifnya. Atau mungkin sudah menjadi kebiasaan sehingga walaupun tahu keberagaman yang hadir tetapi karena dorongan dari dalam sehingga kalimat diskriminatifnya tetap meluncur deras keluar. Saya sebut kebiasaan karena saya sudah beberapa kali merasakan semburan dikriminatifnya.


Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah kodrat. Allah sudah mengingatkan kita semua akan hal itu, bahkan  diciptakan-Nya dengan sebuah tujuan, mudah-mudahan yang bersangkutan mengingat kembali ayat berikut. Dalam QS.Al Hujuraat  13 yang artinya :

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha MengenalRead the rest of this entry

Ada Dan Tiada

Dalam sebuah perkuliahan perdana seorang Profesor bertanya kepada para mahasiswanya, “Hai mahasiswa, apakah Tuhan menciptakan seluruh yang dimuka bumi ini ?” Seorang mahasiswa berkata,” Betul, Tuhan menciptakan semua yang dimuka bumi ini.” Sang Profesor bertanya lagi kepada mahasiswanya, “Kalau memang Tuhan menciptakan semua yang dimuka bumi ini, berarti apakah Tuhan juga menciptakan kejahatan ?“ Para mahasiswa bingung. Lalu ada seorang mahasiswa yang nyeletuk, “Profesor, bisakah saya bertanya ?”

Profesor berkata, “Silahkan .” Apakah dingin itu ada ? tanya mahasiswa itu. “Ya, dingin itu ada”  jawab Profesor. “Ini kesalahan Profesor, dingin itu tidak ada, yang ada adalah ketiadaan panas. Pada suhu 400 F, suhu dalam posisi konstan sehingga tidak mungkin terjadi panas dan tidak dingin. Orang di dunia ini menggunakan kata dingin untuk mendeskripsikan akan ketiadaan panas” sahut mahasiswa menjawab pertanyaannya sendiri. Read the rest of this entry